Salah Nggak Sih Kirim Chat Dua Kali? Ini yang Perlu Kamu Lakukan Kalau Dia Nggak Balas
Entri No. 216 ·

Oleh Tim IF
Kirim chat dua kali — mengirim pesan kedua sebelum pesan pertama dijawab — sebenarnya nggak salah. Satu pesan susulan setelah jeda yang wajar, apalagi yang menambahkan sesuatu yang baru, itu normal dan sering kali justru disambut baik. Yang bikin risih adalah rentetan pesan, sindiran yang bikin merasa bersalah (“?”, “halo??”), atau terus mengejar orang yang jelas-jelas sudah mundur. Kalau pesanmu cuma dibaca tanpa dibalas, biasanya artinya orang itu sedang sibuk, teralihkan, atau bingung mau bilang apa — bukan berarti dia sudah mengambil kesimpulan tentangmu. Beri waktu, kirim satu pesan susulan yang ringan kalau memang penting buatmu, lalu biarkan percakapannya beristirahat.
Kalau kamu membaca ini dengan ponsel tertelungkup di meja supaya berhenti mengeceknya, kamu nggak sedang berlebihan. Menunggu balasan dari orang yang kamu suka bisa menelan sepanjang malam, dan keheningan selalu terasa lebih bermakna daripada kenyataannya.
Di balik pertanyaan soal kirim chat dua kali, ada pertanyaan yang lebih besar: seberapa boleh sih kita menunjukkan bahwa kita peduli? IF dibangun di atas jawaban bahwa menunjukkannya itu nggak masalah: IF membiarkanmu jujur soal perasaanmu — single atau sudah punya pasangan, dia juga atau nggak, dan siapa pun yang mencuri perhatianmu — lalu menyimpan perasaan itu di tempat yang aman sampai waktunya tepat, alih-alih mengirim pesan demi pesan ke dalam keheningan.
Kenapa balasan yang nggak datang terasa begitu nyaring
Nggak tahu itu sendiri punya daya tarik. Dalam sebuah studi di University of Virginia, mahasiswa yang dibiarkan nggak yakin seberapa suka seseorang pada mereka justru lebih sering memikirkan orang itu, dan pikiran yang berlebih itu memperdalam ketertarikan mereka. Pesan yang nggak dijawab bekerja dengan cara yang sama. Pesan itu menyerahkan pertanyaan terbuka ke pikiranmu, dan pikiran kita payah sekali kalau harus membiarkan pertanyaan terbuka begitu saja.
Jadi dorongan untuk mengirim pesan lagi sering kali lebih soal dirimu daripada soal dia: kamu ingin pertanyaannya ditutup. Itu manusiawi, dan layak disadari sebelum kamu mengetik, karena pesan susulan yang dikirim untuk menenangkan kegelisahanmu sendiri biasanya terdengar berbeda dari pesan yang dikirim karena kamu benar-benar punya sesuatu untuk disampaikan.
Kapan kirim chat dua kali sepenuhnya wajar
- Sudah lewat beberapa jam atau sehari dan percakapannya cuma mandek.
- Kamu punya sesuatu yang baru: tautan yang bakal dia suka, pikiran yang tadi terlupa, atau rencana yang lebih baik.
- Kamu sedang di tengah percakapan lalu dia menghilang, seperti yang biasa terjadi saat bus datang atau rapat dimulai.
- Urusannya praktis: waktu, tempat, perubahan rencana.
- Kamu menyusul setelah kencan yang menyenangkan dan belum dengar kabar. Kapan sebaiknya kirim pesan setelah kencan pertama membahas soal waktunya.
Ada bukti bahwa pesan kedua bisa membantu, bukan merugikan. Saat Hinge meneliti lebih dari 300.000 percakapan di aplikasinya pada 2017, pesan susulan yang dikirim beberapa jam setelah pesan yang nggak dijawab membuat balasan jauh lebih mungkin muncul dibandingkan diam saja. Itu data satu perusahaan dari satu aplikasi, tapi cocok dengan akal sehat: orang bisa melewatkan pesan, dan dorongan yang lembut memberi mereka jalan masuk yang mudah.
Kapan sebaiknya ditahan
- Kamu sudah menyusul sekali dan nggak dengar apa-apa. Susulan kedua itulah yang mulai terasa seperti tekanan.
- Balasannya sudah makin pendek dan makin lambat belakangan ini. Itu pola, bukan pesan yang terlewat, dan sinyal campur aduk membantumu membacanya.
- Kamu sedang kesal. Pesan yang ditulis saat ngambek hampir selalu disesali keesokan paginya.
- Dia sudah bilang sedang sibuk, butuh ruang, atau nggak tertarik. Itu jawabannya, dan cara yang baik adalah berhenti di situ.
- Sudah sangat larut dan kamu sudah minum. Simpan untuk siang hari.
Apa yang sebaiknya kamu kirim sebagai pesan susulan
Pesan kedua yang baik berdiri sendiri. Pesan itu nggak menyinggung soal keheningan, nggak menanyakan kenapa dia belum balas, dan nggak minta maaf karena ada. Pesan itu memberinya sesuatu yang segar dan mudah dijawab:
- “Ngomong-ngomong, aku udah nemu tempat yang tadi aku ceritain. Kuenya sebagus yang aku bilang.”
- “Abaikan aja kalau lagi numpuk — tapi kamu masih mau kan hari Kamis?”
- “Liat ini jadi inget selera filmmu yang parah itu.”
- “Nggak buru-buru kok, cuma mau bilang semalam aku seneng banget.”
Perhatikan kesamaan pesan-pesan ini: hangat, ringan, dan nggak menuntut. Kalau kamu benar-benar kehabisan kata, ambil satu kalimat dari apa yang sebaiknya kamu chat ke gebetanmu dan buat jadi versimu sendiri.
Dibaca tapi nggak dibalas: biasanya artinya apa
Tanda 'sudah dibaca' itu kejam karena cuma memberi tahu separuh ceritanya. Kamu tahu dia sudah melihatnya. Kamu nggak tahu bahwa dia melihatnya sambil menyeberang jalan, berniat membalas dengan benar nanti lalu lupa, atau membacanya dua kali dan nggak menemukan kata yang cukup bagus untuk diucapkan. Semua itu lebih umum daripada keputusan dingin untuk mengabaikanmu.
Perlu diketahui juga bahwa orang cenderung meremehkan seberapa senang orang menerima sebuah pesan. Dalam tiga belas eksperimen, orang yang menghubungi seseorang secara konsisten meremehkan seberapa besar gestur itu dihargai, dan jaraknya paling lebar di antara orang-orang yang belum dekat. Penelitiannya soal teman dan kenalan, bukan kencan, tapi pelajarannya berlaku: pesan susulanmu lebih mungkin diterima sebagai kehangatan daripada sebagai ocehan.
Yang benar-benar bermakna adalah polanya. Kalau seseorang membaca setiap pesan dan membalas dengan satu kata, jarang menanyakan apa pun padamu, dan nggak pernah mengusulkan bertemu, keheningan itu adalah bagian dari jawaban yang lebih besar. Kalau dia hangat saat kalian bersama tapi lambat di ponselnya, mungkin dia memang orang yang kering saat chat.
Kalau dia tetap nggak membalas
Kalau begitu, biarkan saja, dan jaga martabatmu dengan nggak menarasikannya. Nggak perlu “kayaknya sibuk ya”, nggak perlu pesan ketiga, nggak perlu mengubah nada pesan berikutnya kalau dia muncul. Orang kembali setelah seminggu yang padat lebih sering dari yang kamu kira, dan mereka lebih mudah kembali kepada seseorang yang nggak membuat keheningan itu jadi canggung.
Kalau dia nggak kembali, itu bicara soal waktunya, kapasitasnya, atau perasaannya — bukan soal nilaimu. Kamu sudah mengirim satu pesan yang baik dan satu susulan yang tulus. Itu jumlah keberanian yang tepat.
Di mana IF berperan: katakan sekali, lalu biarkan
Chat dua kali adalah upaya kedua untuk percakapan yang mandek. IF adalah satu upaya untuk percakapan yang belum bisa dimulai, karena salah satu dari kalian sudah punya pasangan atau karena dia nggak ada di IF. IF hadir untuk perasaan yang tumbuh di dunia nyata: kamu menyampaikan perasaanmu dengan jujur, single atau sudah punya pasangan dan tentang siapa pun itu, dan perasaan itu disimpan sampai waktunya memungkinkan.
Yang berbeda adalah bagian setelah mengirim. Dengan chat, keheningan adalah bagian tersulitnya. Dengan IF, nggak ada utas yang perlu dipantau: beberapa baris tersegel, nggak lebih dari 250 karakter, yang nggak bisa berubah jadi percakapan sampai kalian berdua sama-sama single, jadi yang tersisa hanyalah melanjutkan malammu. Sesuatu seperti: “Bulan ini aku udah hapus sekitar sembilan chat buat kamu. Ini yang sebenarnya mau aku bilang: aku suka banget sama kamu. Itu aja. Itu chat-nya.”
Kalau dia ada di IF, satu-satunya yang mungkin sampai ke dia adalah notifikasi bertuliskan “Kamu dapat IF”: tanpa nama, tanpa pesan, nggak ada yang bisa dibalas sampai IF itu dibuka. Orang yang belum bergabung tetap bisa dikirimi IF, ke alamat email, nomor telepon, atau akun Instagram yang dia berikan; email memicu satu undangan singkat, dua lainnya nggak memicu apa-apa, dan IF-nya menunggu kalau-kalau dia mendaftar. Sementara itu, dua orang single di IF cukup butuh Like; begitu diterima, chat jadi milik kalian untuk saling kirim pesan dua kali, secukupnya.
Seperti pesan jujur lainnya, IF bukan cara untuk mengakali penolakan: IF menyampaikan apa yang kamu rasakan, dan apa yang terjadi selanjutnya terserah dia. Nggak ada biaya untuk mengirim IF pertamamu, dan cara mengirim IF yang sempurna membantumu memilih kata-katanya. Pastikan setiap katanya tulus, kirim, lalu letakkan ponsel tertelungkup untuk alasan yang lebih baik.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Berapa lama sebaiknya menunggu sebelum kirim chat dua kali?
Beberapa jam untuk percakapan santai, dan sekitar sehari kalau pesannya lebih penting. Nggak ada aturan pasti, tapi susulan yang dikirim beberapa menit kemudian terasa cemas, sementara yang dikirim sehari kemudian terasa santai.
Kirim chat dua kali itu tanda putus asa?
Nggak, kalau itu satu pesan yang menambahkan sesuatu yang baru. Mulai terasa putus asa kalau jadi rentetan, kalau mengomentari keheningan, atau kalau mengabaikan tanda jelas bahwa orang lain sudah mundur.
Boleh nggak kirim chat dua kali setelah kencan pertama?
Boleh, kalau kamu belum dengar kabar selama sekitar sehari. Pesan singkat yang hangat dan mengusulkan bertemu lagi adalah bentuk yang tepat. Kalau itu pun nggak dijawab, biarkan saja.
Berapa banyak pesan yang terlalu banyak tanpa balasan?
Dua berturut-turut masih wajar; tiga mulai kebanyakan. Setelah satu susulan, langkah berikutnya milik dia.
Kirim pesan susulan itu kalau hangat dan layak dikirim, lalu letakkan ponselmu. Dan ketika orang yang paling ingin kamu chat justru belum bisa kamu chat, katakan sekali lewat IF, lalu biarkan ponselnya beristirahat.