Cara Minta Nomor HP (atau Instagram) Seseorang

Entri No. 080 ·

Di taman sebuah pub yang ramai saat senja, di bawah untaian bohlam yang hangat, seorang perempuan muda sekitar dua puluh dua tahun berkaus polos dan berjins longgar tertawa sambil mengetik nomornya di ponsel merah muda tua milik pria muda seusianya yang memakai kemeja luar terbuka, layarnya menghadap ke arah lain, sementara teman-teman mereka mengobrol di sekitar meja piknik yang penuh di belakang mereka.

Oleh Tim IF

Cara paling sederhana untuk minta nomor seseorang: minta selagi obrolan masih asyik, bilang kenapa kamu menginginkannya, dan bikin dia gampang menolak. Misalnya: “Aku senang banget ngobrol sama kamu. Boleh minta nomormu? Kapan-kapan aku pengin ngajak kamu minum — nggak apa-apa kalau nggak mau.” Kalau minta nomor terasa terlalu jauh untuk saat itu, mulai dengan Instagram-nya, atau tawarkan nomormu sendiri dan biarkan dia yang memutuskan. Lalu terima jawaban apa pun dengan lapang dada. Detail yang seseorang pilih untuk diberikan adalah satu-satunya izinmu untuk menghubunginya, dan detail yang tidak mau dia berikan juga sebuah jawaban.

Kalau kamu sedang latihan di kepala dalam perjalanan ke pesta, kamu nggak sendirian. Minta nomor terasa lebih besar dari aslinya: itulah momen ketika obrolan yang menyenangkan berubah jadi sesuatu yang bisa berlanjut, tanpa kesempatan untuk mengedit. Dan penilaianmu soal bagaimana obrolan tadi berjalan kemungkinan terlalu suram. Dalam studi tahun 2018 yang diterbitkan di Psychological Science, orang yang baru saja ngobrol dengan orang asing secara konsisten meremehkan seberapa besar lawan bicaranya menyukai mereka. Para peneliti menyebutnya “liking gap”.

Dan nomor hanyalah awal. Di IF — aplikasi kencan untuk semua orang, entah lajang atau sedang berpasangan — nomor atau handle yang seseorang bagikan padamu memungkinkanmu menyatakan perasaan, kapan pun waktunya: Like kalau kalian berdua lajang dan dia ada di IF, atau IF tersegel yang menunggu kalau salah satu dari kalian sedang bersama orang lain.

Minta di momen paling asyik, bukan di depan pintu

Waktu menentukan hampir segalanya. Momen terbaik adalah saat obrolan masih hangat, ketika kamu sadar sudah ngobrol dua puluh menit dan tak satu pun dari kalian mencari alasan untuk pergi. Momen terburuk adalah detik terakhir, saat dia sudah memakai jaket, ada teman yang menarik-narik lengannya, dan pertanyaanmu datang seperti sergapan.

Cari tanda-tanda dia menikmatinya sama seperti kamu:

  • Dia balik bertanya dan menanggapi jawabanmu lebih jauh.
  • Dia tetap tinggal padahal ada kesempatan mudah untuk pergi: teman melambai, minuman habis, kelas malam selesai.
  • Dia menyebut hal-hal yang bisa kalian lakukan bersama, atau tempat yang sama-sama kalian kenal.

Tanda-tanda bahwa ini bukan momennya juga sama mudahnya dibaca: jawaban singkat, badan mengarah menjauh, lirikan ke pintu. Dan orang yang sedang bekerja — melayanimu, memimpin kelas spin-mu, memotong rambutmu — dibayar untuk ramah dan tidak bisa begitu saja pergi, sehingga menolak dengan bebas jadi lebih sulit. Di situasi itu, menawarkan nomormu sendiri adalah langkah yang lebih baik hati.

Jelaskan buat apa, dan beri jalan keluar yang mudah

Nomor yang diminta tanpa konteks bisa terasa seperti tuntutan. Nomor yang diminta dengan alasan terasa seperti rencana. Alasannya nggak harus pintar; cukup jujur. Contohnya:

  • Langsung dan hangat: “Kapan-kapan aku pengin ngajak kamu jalan. Boleh minta nomormu?”
  • Nyambung dengan obrolan kalian: “Kamu harus kirim nama tempat ramen itu ke aku. Jujur, aku juga pengin ketemu kamu lagi — boleh minta nomormu?”
  • Sekalian dengan rencana: “Tiap Kamis ada kuis di Crown. Mau ikut bareng aku? Boleh minta nomormu biar aku kirim detailnya?”

Masing-masing menyampaikan apa yang kamu mau, dan justru di situlah baiknya. “Boleh minta nomormu?” yang polos bikin dia menebak-nebak apakah maksudmu kencan, pertemanan, atau urusan kerja. Lalu beri jalan keluar yang mudah: “nggak apa-apa kalau nggak” yang diucapkan santai sebelum dia menjawab membuat menolak sama mudahnya dengan mengiyakan, dan artinya kalau jawabannya iya, itu iya yang sungguhan.

Yang bikin canggung

  • Minta di depan penonton. Teman-teman yang menonton mengubah pertanyaan pribadi jadi pertunjukan, dan bikin menolak jadi lebih sulit.
  • Menyodorkan ponsel sebelum dia bilang iya. Sodorkan setelah dia setuju, supaya mengetik nomornya jadi pilihan, bukan ujian sopan santun.
  • Menganggapnya barter. Mentraktir seseorang minum bukan berarti dia berutang cara untuk dihubungi.

Cara minta Instagram seseorang

Minta Instagram sering kali lebih mudah, karena terasa lebih ringan. Nomor telepon langsung masuk ke saku; follow adalah sesuatu yang bisa dia lihat nanti, terima, atau abaikan. “Kamu main Instagram?” biasanya sudah cukup. Kalau akunnya privat, permintaan follow membiarkan keputusan tetap di tangannya, dan memang di situlah tempatnya.

Masalahnya, follow itu ambigu. Banyak orang tukar handle dengan semua orang yang mereka temui di pesta pernikahan, jadi follow bisa terbaca sekadar ramah, bukan tertarik. Kalau kamu suka dia, follow bukanlah pesannya. Katakan lewat direct message — panduan kami soal menyatakan perasaan ke gebetan di Instagram menunjukkan caranya tanpa terdengar seperti gombalan — atau, kalau kalian berdua lajang dan ada di IF, lewat Like. Dan kalau salah satu dari kalian sedang bersama orang lain, IF yang dikirim ke handle yang dia berikan padamu menyampaikannya dalam pesan tersegel yang tidak meminta apa pun darinya hari ini.

Apakah aneh minta Instagram seseorang?

Nggak. Di antara orang dewasa, ini cara biasa untuk tetap terhubung setelah bertemu. Ini cuma terasa aneh kalau datang tiba-tiba, atau menggantikan pertanyaan yang sebenarnya kamu maksud. Kalau kamu minta nomor dan dia malah menawarkan Instagram-nya, terima dengan senang hati. Yang nggak boleh kamu lakukan adalah menyusuri daftar setelah ditolak: nomor, lalu Instagram, lalu email. Itu bukan kegigihan. Itu tawar-menawar, dan dia akan merasakannya.

Cara memberikan nomormu secara langsung

Kadang langkah yang lebih baik adalah menyerahkan pilihan sepenuhnya. Menawarkan nomormu cocok kalau kamu nggak yakin dengan perasaannya, kalau dia sedang bekerja, atau kalau pertanyaan langsung bisa bikin dia merasa terpojok.

  1. Sebutkan siapa kamu dan buat apa: “Oh iya, aku Sam. Aku senang banget ngobrol sama kamu — kalau kapan-kapan kamu mau minum bareng, ini nomorku.”
  2. Buat mudah disimpan: tulis di kartu, struk, atau sobekan kertas dari buku catatan. Kalau dia menyodorkan ponselnya, ketik nomormu lengkap dengan namamu dan tempat kalian bertemu.
  3. Bilang terang-terangan bahwa nggak ada tekanan, dan sungguh-sungguh: “Nggak apa-apa banget kalau nggak.”
  4. Lalu ganti topik, atau pamit. Berdiri menunggu selagi dia memutuskan justru merusak semuanya.

Setelah itu, lepaskan. Kalau dia menghubungi, menyenangkan. Kalau tidak, kamu cuma kehilangan secarik kertas, dan saat bertemu lagi kamu memperlakukannya persis seperti sebelumnya — hal yang paling penting dengan orang yang akan terus kamu temui. Panduan kami soal ngobrol dengan gebetan di gym membahas cara menjaga tempat yang kalian pakai bersama tetap nyaman untuk berdua. Dan kalau kalian berdua ada di IF, dia juga bisa menemukanmu di Pencarian IF dengan nomor itu, kapan pun dia mau, selama itu nomor yang terdaftar di akunmu dan kamu bisa ditemukan di sana.

Kalau dia bilang iya, mungkin, atau nggak

  • Iya. Kirim pesan dalam sehari-dua, dan sebutkan siapa kamu: “Hai, ini Sam dari pestanya Priya — yang punya pendapat kuat soal roti sourdough.” Lalu ajak melakukan sesuatu yang spesifik. Kalau bingung mau bilang apa, panduan kami soal bilang suka ke seseorang lewat chat punya contoh-contohnya.
  • “Kamu aja yang kasih nomormu.” Lakukan dengan senang hati. Dia tetap memegang pilihan, dan itu adil.
  • “Aku lagi jalan sama seseorang.” Percayai, ucapkan terima kasih, dan biarkan obrolan jadi lebih ringan. Jangan tanya apakah hubungannya serius. Tapi kamu nggak harus pura-pura perasaanmu sudah hilang: kalau kalian tetap berhubungan, suatu hari bertukar kontak, dan perasaan itu bertahan, IF tersegel bisa menyampaikannya saat itu dan menunggu sampai waktu kalian pas.
  • Ragu-ragu, tertawa, ganti topik. Anggap itu nggak. “Nggak apa-apa — senang banget bisa kenalan sama kamu” sudah jadi seluruh naskahnya.

Bagaimanapun hasilnya, minta nomor tadi adalah hal yang baik. Kamu mengatakan sesuatu yang jujur, dengan baik, dan memberinya pilihan yang nyata. Sebagian besar dari bilang ke seseorang bahwa kamu suka dia memang cuma soal itu.

Creepy nggak sih mengirim pesan ke orang yang baru sekali kamu temui?

Kalau dia memberimu nomor atau handle-nya, nggak. Memang untuk itulah dia memberikannya, dan menunggu seminggu supaya terkesan santai biasanya malah terlihat kurang tertarik, bukan lebih misterius. Kirim satu pesan hangat yang mengingatkan siapa kamu. Kalau nggak dibalas, satu pesan susulan yang lembut beberapa hari kemudian masih oke. Setelah itu, diam adalah jawaban, dan hal yang menghormatinya adalah berhenti.

Yang bikin jadi creepy adalah kalau dia nggak memberikannya padamu. Melacak Instagram seseorang dari nama depan dan sedikit kerja detektif berarti menghubunginya lewat pintu yang nggak pernah dia buka. Pesan manis sekalipun bisa terasa meresahkan kalau hal pertama yang dia tahu adalah dirinya sudah ditemukan. Diminta terasa seperti pujian. Ditemukan terasa seperti diawasi.

Kalau dia nggak memberikannya, jangan cari-cari

Hampir semua orang pernah mengalami versinya sendiri: obrolan seru di kereta atau di pesta pernikahan, lalu malam berakhir sebelum kamu sempat minta. Rasanya nyesek. Tapi pilihan yang jujur memang sedikit, dan itu bagus.

  • Kalau kamu akan bertemu dia lagi dalam keseharian — kelas malam yang sama, futsal Sabtu yang sama — tanyakan lain kali. Jangan mulai muncul di suatu tempat cuma untuk jaga-jaga.
  • Kalau kalian punya teman yang sama, minta teman itu menyampaikan kontakmu, bukan memberikan kontaknya padamu. Dengan begitu pilihannya tetap di tangan dia.
  • Kalau kalian sama sekali nggak punya koneksi, satu unggahan missed-connection publik yang hati-hati adalah batas terjauh yang masih adil: ceritakan momennya, bukan penampilannya, dan jangan sertakan nama, tempat kerja, atau foto apa pun, supaya membalas tetap jadi pilihannya. Tempat orang mengunggah missed connections sekarang jujur soal betapa jarangnya cara ini berhasil.
  • Atau biarkan itu jadi momen indah yang sudah berlalu. Itu juga boleh.

Yang nggak ada di daftar ini adalah segala bentuk mengorek-ngorek: nggak pakai situs pencari orang, nggak mencari tahu di mana dia tinggal atau bekerja, nggak bertanya ke sana kemari sampai ada yang memberikan nomornya. Kalau seseorang menolak membagikan kontaknya, atau memintamu untuk tidak menghubunginya, jawabannya adalah berhenti.

Kalau kamu nggak bisa melepaskannya — terus memutar ulang momen itu berminggu-minggu, merencanakan cara untuk kebetulan bertemu dia — bicaralah dengan seseorang; kamu nggak harus menghadapinya sendirian.

Di sinilah IF berperan

Nomor atau handle yang seseorang berikan padamu adalah undangan untuk mendengar kabar darimu, dan IF dibuat untuk apa yang datang sesudahnya: kamu seharusnya bisa memberi tahu orang yang kamu maksud tentang perasaanmu, kapan pun waktunya. Pencarian di IF dibuat persis untuk detail yang orang pilih untuk dibagikan padamu — alamat email, nomor telepon, atau handle Instagram, tidak pernah wajah atau nama depan. Tidak ada yang diberi tahu saat kamu mencari, dan IF tidak bisa tahu apakah sebuah detail memang diberikan padamu, jadi aturan itu tetap milikmu: pakai hanya detail yang dia bagikan, dan setelah ditolak, baik Like maupun IF bukanlah cara kedua untuk bertanya. Siapa pun yang lebih suka tidak ditemukan bisa mematikan “Muncul di Pencarian”.

Kalau kalian berdua lajang dan dia ada di IF, kirim Like. Like mengatakan apa yang tidak bisa dikatakan follow — bahwa kamu tertarik, bukan sekadar ramah — dan Like yang diterima membuka chat. Kalau salah satu dari kalian sedang berpasangan, tidak ada obrolan yang bisa dibuka di IF sampai kalian berdua lajang, tapi kamu bisa mengirim IF: pesan pribadi yang tersegel, maksimal 250 karakter. Kalau kamu lajang dan dia menjadi lajang, kamu punya 24 jam untuk menampilkannya; kalau kamu yang sedang berpasangan dan dia lajang, IF-mu terbuka saat kamu mengubah statusmu sendiri menjadi lajang. Cara kerja IF menjelaskan setiap situasinya.

Ada baiknya tahu bagaimana IF itu sampai. Kalau dia ada di IF, biasanya dia akan diberi tahu bahwa ada IF yang menunggu — tidak pernah siapa pengirimnya atau apa isinya — meski dia mungkin bisa menebak dari konteks. Kalau dia belum ada di IF, IF yang dikirim ke alamat email yang dia berikan padamu memicu satu email undangan singkat, sedangkan IF yang dikirim ke nomor telepon atau handle Instagram tidak mengirim apa pun dan menunggu kalau-kalau dia bergabung. Apa pun itu, kartu IF tersebut di daftarmu lalu menawarkan Curhat ke Mutual: pesan siap pakai yang meminta teman-teman yang kalian kenal bersama untuk memberi kode bahwa ada sesuatu yang menunggunya. Dengan tahu itu, pilihannya ada di tanganmu.

IF pertamamu gratis. Minta nomor butuh sedikit keberanian, menulis IF juga, dan justru itulah intinya: kamu mengatakannya sekali, dengan sungguh-sungguh, lalu lanjut menikmati malammu selagi IF itu menunggu. Kalau suatu hari waktunya pas, kamu sudah ada di sana, dan mungkin itu membawa kalian berdua ke tempat yang memang seharusnya sejak awal.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana cara minta nomor seseorang tanpa canggung?

Minta saat berdua saja selagi obrolan masih asyik, bukan di depan teman-temannya atau saat dia mau pergi. Jelaskan buat apa, tambahkan “nggak apa-apa kalau nggak” dengan santai, dan sodorkan ponselmu hanya setelah dia bilang iya. Sebagian besar rasa canggung datang dari tekanan.

Sebaiknya aku minta nomornya atau Instagram-nya?

Mana pun yang terasa wajar di situasinya. Nomor lebih langsung dan memudahkan bikin rencana; Instagram lebih ringan dan memberinya kesempatan mengenalmu dulu. Kalau ragu, tanya “Enaknya aku hubungi kamu lewat mana?” dan biarkan dia memilih. Apa pun yang dia berikan juga merupakan detail yang bisa dipakai Pencarian di IF, kalau suatu hari kamu ingin mengatakan lebih dari yang bisa disampaikan sebuah chat.

Berapa lama sebaiknya menunggu untuk chat setelah dapat nomor seseorang?

Nggak ada aturan yang layak diikuti, tapi dalam sehari-dua adalah naluri yang bagus: cukup cepat sehingga dia masih ingat kamu, dan tanpa main tarik-ulur. Sebutkan siapa kamu, singgung sesuatu dari obrolan kalian, dan kalau kamu ingin bertemu, ajak melakukan sesuatu yang spesifik.

Apa yang harus dilakukan kalau dia bilang sudah punya pacar?

Percayai, ucapkan terima kasih, dan jaga suasana tetap ringan; bisa jadi itu memang kenyataan soal waktu, jadi jangan mendesak minta detail. Tapi kamu nggak harus pura-pura perasaanmu sudah hilang. Kalau kalian tetap berhubungan dan perasaan itu bertahan, kamu bisa mengatakannya, tapi membuka hati ke orang yang punya pasangan punya risiko nyata. Bisa jadi kamu lebih baik mengatakannya sekali lewat IF, ke nomor atau handle yang sudah dia bagikan padamu: tersegel selama dia bersama seseorang, IF itu tidak meminta apa pun darinya hari ini, dan tidak ada obrolan yang bisa dibuka di IF sampai kalian berdua lajang. Kalau suatu hari waktunya pas, kamu ada di sana untuk menunjukkan betapa kamu selalu menyukainya. Orang yang tepat, waktu yang salah? Tunggu dia di IF.

Bolehkah minta nomor seseorang lewat temannya?

Lebih baik minta teman itu menyampaikan kontakmu, atau menanyakan dulu ke orangnya. Teman yang baik nggak akan memberikan nomor seseorang tanpa bertanya, dan kamu pun nggak mau nomormu diberikan begitu saja. Misalnya: “Bisa kasih nomorku ke Jess? Cuma kalau dia mau — santai aja, nggak ada paksaan.” Kalau dia mau berhubungan, dia akan menghubungi, dan kalau nggak, nggak ada yang dibuat serba salah.

Minta dengan baik, katakan apa yang kamu maksud, dan biarkan detail yang seseorang pilih untuk dibagikan jadi jalan masukmu. Dan kalau waktunya belum tepat, beranikan diri dan tetap katakan, lewat IF yang menunggu hari ketika semuanya pas.