Cara Menjaga Percakapan Tetap Seru
Entri No. 213 ·

Oleh Tim IF
Untuk menjaga percakapan tetap seru, ajukan pertanyaan setelah pertanyaan. Tanggapi apa yang baru saja dikatakan lawan bicaramu alih-alih mengganti topik, bagikan sesuatu tentang dirimu sebagai balasan, dan gali satu lapis lebih dalam dari obrolan basa-basi — dari “Kamu kerja apa?” ke “Apa yang paling kamu suka dari pekerjaan itu?”. Lewat chat, beri mereka sesuatu yang spesifik untuk dijawab; saat bertemu langsung, biarkan keheningan kecil terjadi. Dan akhiri saat masih asyik: percakapan yang berhenti di momen puncak jauh lebih mudah dilanjutkan lagi daripada yang sudah kehabisan bahan.
Kalau pikiranmu mendadak kosong begitu bicara dengan orang yang kamu suka, tidak ada yang salah denganmu. Justru karena kamu ingin percakapan berjalan baik, hal itu jadi sulit: sebagian perhatianmu tertuju pada lawan bicara dan sebagian lagi mengawasi dirimu sendiri. Kebiasaan di bawah ini mengembalikan perhatian itu ke tempatnya, yang juga membuatmu jadi teman ngobrol yang menyenangkan.
Percakapan yang seru sering jadi awal rasa suka: rekan kerja yang bisa kamu ajak ngobrol berjam-jam, teman sekamar temanmu yang membuat pesta terasa cepat berlalu. Kadang orang yang paling ingin kamu ajak terus bicara adalah seseorang yang belum bisa kamu kejar sekarang. IF dibuat untuk perasaan seperti itu: kamu bisa jujur tentangnya, baik kamu masih lajang maupun sudah berpasangan dan siapa pun orangnya, dan IF menjaga apa yang dimulai di dunia nyata tetap aman sampai saatnya tiba untuk bertindak.
Ajukan pertanyaan setelah pertanyaan
Kebiasaan percakapan yang paling berguna adalah pertanyaan lanjutan. Dalam serangkaian studi di Harvard, orang yang lebih banyak bertanya — terutama pertanyaan lanjutan — lebih disukai oleh orang yang mereka ajak bicara, karena pertanyaan lanjutan menunjukkan kamu benar-benar mendengarkan. Para peneliti juga menemukan bahwa orang meremehkan hal ini: mereka tidak menyangka bertanya akan membuat mereka lebih disukai, jadi mereka bertanya terlalu sedikit.
Perbedaan antara ganti topik dan pertanyaan lanjutan mudah didengar:
- Mereka bilang: “Aku baru pulang dari Lisbon.” Ganti topik: “Asyik. Aku mau ke Roma bulan Juni.” Pertanyaan lanjutan: “Apa makanan terenak yang kamu makan di sana?”
- Mereka bilang: “Kerjaan minggu ini gila banget.” Ganti topik: “Sama.” Pertanyaan lanjutan: “Gila seru atau gila parah?”
- Mereka bilang: “Aku baru mulai panjat tebing.” Ganti topik: “Aku lebih suka lari.” Pertanyaan lanjutan: “Apa yang bikin kamu tertarik?”
Pertanyaan lanjutan tidak harus pintar. Yang penting membuktikan bahwa hal terakhir yang mereka katakan benar-benar kamu tangkap.
Gali satu lapis lebih dalam dari yang terasa wajar
Basa-basi itu pintu, bukan ruangan. Kebanyakan dari kita berlama-lama di ambang pintu karena mengira lawan bicara lebih suka obrolan ringan. Biasanya tidak. Dalam serangkaian eksperimen dengan lebih dari seribu partisipan, orang secara konsisten mengira percakapan mendalam dengan orang asing akan lebih canggung dan kurang menyenangkan daripada kenyataannya, dan meremehkan seberapa tertarik lawan bicara mereka untuk menggali lebih dalam.
Kamu tidak perlu langsung melompat ke “Apa ketakutan terbesarmu?”. Cukup bawa setiap topik satu langkah lebih jauh:
- Dari apa pekerjaan mereka ke kenapa mereka memilihnya, atau apa yang ingin mereka lakukan sebagai gantinya.
- Dari di mana mereka besar ke apa yang mereka rindukan dari sana.
- Dari apa yang mereka lakukan akhir pekan ke bagian terbaiknya.
- Dari film yang mereka suka ke momen yang membekas.
Bagikan sesuatu sebagai balasan
Pertanyaan saja membuat percakapan jadi wawancara. Irama yang membangun kedekatan adalah timbal balik: mereka bercerita sesuatu, kamu bertanya, lalu kamu menawarkan sesuatu tentang dirimu di kedalaman yang kurang lebih sama. Kalau mereka menyebut merindukan masakan neneknya, cerita tentang meja makan keluargamu mengundang mereka lebih masuk; lelucon tentang kantin justru menarik mereka keluar.
Samakan kedalamannya alih-alih menaikkan taruhan. Menjawab cerita ringan dengan rahasia terdalammu sama janggalnya dengan menjawab cerita rapuh dengan lelucon.
Lewat chat: beri mereka sesuatu untuk dipegang
Percakapan chat mati karena satu hal di atas segalanya: pesan tidak memberi lawan bicara apa pun untuk dibalas. “Haha asyik” adalah titik. Chat yang baik menjawab apa yang mereka katakan, menambahkan sedikit tentangmu, dan meninggalkan pancingan:
- Jawab, tambah, tanya: “Ha, itu keren banget. Teman sekamarku coba hal yang sama dan malah bikin alarm asap bunyi. Punyamu beneran mengembang?”
- Angkat lagi topik lama: “Eh, kamu belum cerita gimana hasil wawancaranya.”
- Kirim sesuatu yang bisa mereka tanggapi: foto, lagu, atau tempat yang menurutmu mereka suka.
- Kalau percakapan mulai melempem, usulkan pindah ke tempat yang lebih baik: telepon, atau kopi bareng.
Kalau lawan bicaramu terus membalas dengan dua kata, mungkin saja dia pengirim chat yang kaku yang baru hidup saat bertemu langsung. Mulai dari nol? Chat pertama ke gebetan adalah tempatnya untuk pesan pembuka, dan saat kamu ingin percakapan jadi lebih menggoda, flirting lewat chat melanjutkannya dari sana.
Saat bertemu langsung: biarkan keheningan ikut bekerja
Jeda terasa tiga kali lebih lama bagi orang yang mengkhawatirkannya. Sering kali lawan bicara hanya sedang berpikir. Biarkan sejenak berlalu sebelum kamu buru-buru mengisinya, dan saat kamu bicara, beberapa langkah yang bisa diandalkan menjaga alur tetap jalan:
- Kembali ke tadi: “Balik ke soal band kakakmu tadi…”
- Perhatikan sesuatu di sekitarmu: musiknya, makanannya, orang-orang di meja sebelah.
- Minta pendapat, bukan fakta: pendapat mengundang cerita.
- Akui momennya: “Aku benar-benar lupa tadi mau ngomong apa” itu menggemaskan, bukan fatal.
Kalau kamu memang lebih pendiam, semua ini tidak menuntutmu jadi tukang hiburan. Mendengarkan dengan baik adalah separuh dari percakapan yang seru, dan kencan sebagai introvert punya lebih banyak soal berkencan dengan cara yang cocok untukmu.
Saat percakapan terus mati, apa pun yang kamu lakukan
Kadang percakapan tidak nyambung, dan itu bukan salahmu. Kalau mereka menjawab tanpa bertanya balik, mengecek ponsel, atau memberi jawaban datar yang sama apa pun topik yang kamu buka, mungkin mereka lelah, terganggu, atau memang tidak tertarik. Satu percakapan yang macet bukan vonis. Deretan percakapan yang macet adalah informasi. Dan kalau percakapan lancar di layar tapi macet saat bertemu langsung, chemistry lewat chat tapi tidak saat bertemu menjelaskan kenapa itu sering terjadi.
Akhiri di momen puncak
Keterampilan terakhir adalah tahu kapan berhenti. Para peneliti yang menanyakan percakapan nyata orang menemukan bahwa hanya sekitar 2 persen yang berakhir saat kedua orang menginginkannya, dan orang-orang buruk menebak kapan lawan bicaranya siap mengakhiri. Jadi pergilah di momen yang tepat alih-alih menunggu energinya habis: “Aku harus pergi, tapi aku benar-benar ingin dengar akhir cerita Lisbon-nya” adalah undangan untuk ngobrol lagi.
Di mana IF berperan: percakapan yang belum bisa terjadi
Apa yang kamu lakukan dengan percakapan terbaik yang kamu alami dalam berbulan-bulan, padahal orang di seberangnya pulang ke orang lain? Kalian bertukar cerita sampai lampu menyala, lalu pergi seolah tidak ada yang terucap.
Di sinilah IF berperan. IF untuk perasaan yang dimulai di dunia nyata, sering kali dalam percakapan persis seperti itu, dan memungkinkanmu mengungkapkannya dengan jujur, siapa pun sedang dengan siapa, supaya bisa ditindaklanjuti saat waktunya tepat.
Kalimat pamungkas terbaik di panduan ini juga berlaku di sini: akhiri di momen puncak, dan tinggalkan pancingan. Sebuah IF memberimu 250 karakter untuk melakukannya: “Kita belum selesai cerita Lisbon, dan aku sudah terlalu sering memikirkan percakapan itu. Kapan pun kita bisa, aku ingin tahu akhirnya, idealnya sambil makan malam.” IF terkirim tersegel, dan tidak ada percakapan lanjutan di IF selama salah satu dari kalian masih dengan orang lain; sampai kalian berdua lajang, IF hanya menjaga obrolan itu tetap tersambung.
Namamu dan kata-katamu tetap tersembunyi sampai IF terbuka, meski siapa pun yang sudah memakai IF mungkin diberi tahu bahwa ada satu yang menunggu. Kalau mereka belum bergabung, apa yang sampai ke mereka tergantung yang kamu pakai: alamat email yang mereka berikan mengarah ke satu undangan singkat, sementara nomor atau akun Instagram tidak mengarah ke apa pun, dan IF tetap menunggu kalau-kalau mereka mendaftar. Kasus yang lebih sederhana adalah saat kalian berdua lajang dan mereka sudah ada di IF: sebuah Like, setelah diterima, langsung membawamu kembali ke pertanyaan lanjutan.
Tidak ada biaya untuk IF pertama yang kamu kirim. Setiap percakapan yang seru berakhir dengan alasan untuk mengobrol lagi, jadi jadikan ini alasannya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bagaimana cara menjaga percakapan tetap seru dengan gebetan lewat chat?
Jawab apa yang mereka katakan, tambahkan sesuatu tentang dirimu, dan akhiri dengan pertanyaan mudah yang spesifik. Angkat lagi topik dari percakapan sebelumnya, dan kalau mulai melempem, usulkan telepon atau ketemuan daripada memaksakan lebih banyak pesan.
Apa yang dibicarakan saat percakapan mati?
Kembali ke sesuatu yang mereka sebut tadi, minta pendapat, atau komentari sesuatu di sekitarmu. Pendapat dan cerita lebih mudah menghidupkan lagi percakapan daripada pertanyaan fakta baru.
Bagaimana cara menghindari keheningan canggung saat kencan?
Kamu tidak harus menghindarinya sepenuhnya; jeda singkat itu normal. Pilih suasana yang punya sesuatu untuk ditanggapi — makanan, jalan-jalan, pameran — dan simpan beberapa topik terbuka di kantong.
Bagaimana cara tahu kalau seseorang ingin terus ngobrol?
Mereka bertanya balik, menanggapi apa yang kamu katakan, dan tetap fokus padamu. Jawaban singkat, melirik jam, dan tidak ada pertanyaan balik biasanya berarti ini saat yang tepat untuk menutup dengan hangat.
Ajukan pertanyaan setelah pertanyaan, bagikan sedikit tentang dirimu, dan pergilah saat masih asyik. Dan kalau percakapan terbaikmu belakangan ini dengan seseorang yang belum bisa kamu kejar, simpan tempatmu dengan sebuah IF.