Seberapa Sering Sebaiknya Kamu Mengirim Pesan ke Orang yang Sedang Kamu Dekati?
Entri No. 217 ·

Oleh Tim IF
Tidak ada jumlah pesan yang benar. Orang-orang yang berpacaran dengan bahagia mengirim pesan mulai dari beberapa kali seminggu sampai sepanjang hari. Yang penting adalah ritmenya terasa timbal balik: kalian sama-sama memulai percakapan, balasan datang dalam waktu yang masuk akal untuk kehidupan masing-masing, dan pesannya hangat saat tiba. Di awal, menyapa hampir setiap hari dan membuat rencana untuk pertemuan berikutnya sudah cukup. Kalau kamu tidak yakin apakah kamu terlalu banyak atau terlalu sedikit mengirim pesan, kurang lebih samakan energinya, dan kalau masih terasa janggal, katakan saja dengan santai.
Kalau kamu pernah mendapati dirimu menghitung menit di antara balasan-balasannya, atau mengatur jatah pesanmu sendiri supaya tidak terkesan terlalu berminat, kamu bukan sedang memikirkan hal sepele secara berlebihan. Begitu banyak masa pendekatan awal kini terjadi lewat ponsel, dan ponsel memang sulit dibaca. Kabar baiknya, penelitian justru mengarah menjauh dari aturan-aturan dan menuju sesuatu yang lebih sederhana.
Dan kalau orang yang ingin sekali kamu kirimi pesan adalah seseorang yang belum bisa kamu kirimi pesan — karena dia sedang dekat dengan orang lain, atau kamu yang sedang — IF memang dibuat untuk itu: tempat untuk jujur soal perasaanmu, apa pun status hubunganmu dan siapa pun yang menarik perhatianmu, supaya perasaan yang kamu temukan di dunia nyata bisa menunggu di IF sampai waktunya tepat untuk ditindaklanjuti.
Tidak ada angka ajaib, tapi ada polanya
Ketika para peneliti mempelajari soal berkirim pesan dalam hubungan orang dewasa muda, jumlah pesan itu sendiri ternyata tidak sepenting apakah kebiasaan mereka cocok dan apa fungsi pesan-pesan itu. Dalam penelitian yang dipresentasikan American Psychological Association, orang dewasa muda yang paling bahagia dalam hubungannya cenderung mereka yang merasa pasangannya mengirim pesan dengan cara yang sama seperti dirinya. Pasangan-pasangan yang bahagia itu bukan semuanya pengirim pesan berat atau semuanya ringan. Mereka sekadar selaras.
Isinya juga penting. Dalam sebuah studi terhadap 276 orang dewasa muda yang menjalani hubungan serius, menggunakan pesan untuk mengungkapkan kasih sayang berjalan seiring dengan rasa keterikatan yang lebih kuat di antara pasangan. Jadi pertanyaan yang berguna bukanlah “Berapa banyak?” melainkan “Apakah ini terasa timbal balik, dan apakah ini baik?”
Seberapa sering mengirim pesan di tiap tahap
Setelah kencan pertama atau kedua
Jaga tetap ringan dan punya tujuan: ucapan terima kasih setelah kencan, sedikit balas-balasan di antaranya, dan rencana untuk kencan berikutnya. Beberapa kali bertukar pesan dalam beberapa hari sudah cukup. Di tahap ini, tujuan berkirim pesan adalah membawamu kembali ke ruangan yang sama, bukan menggantikannya. Kapan sebaiknya mengirim pesan setelah kencan pertama membahas pesan pertamanya.
Setelah kalian rutin bertemu
Wajar kalau sekarang kalian mulai terbiasa menyapa hampir setiap hari, dengan percakapan lebih panjang sesekali. Perhatikan siapa yang memulai. Kalau hampir selalu kamu, beri sedikit ruang dan lihat apakah dia mengisinya. Kalau dia sama seringnya memulai percakapan sepertimu, tenang saja: begitulah bentuk rasa tertarik.
Saat hubungan makin serius
Berkirim pesan jadi bukan lagi soal membuktikan minat, melainkan soal menemani satu sama lain: foto anjing yang kamu lewati, “semoga harimu lancar”, lelucon yang berulang. Ini juga momen untuk membicarakan ekspektasi secara terbuka — apakah kalian tipe pengirim pesan atau penelepon, bagaimana perasaan masing-masing soal keheningan panjang di jam kerja — sebelum ketidakcocokan berubah jadi cerita tentang seberapa besar seseorang peduli. Kalau kamu penasaran apakah kalian sudah eksklusif, kapan menghapus aplikasi kencan dan membicarakan komitmen eksklusif bisa membantu.
Tanda ritme pesan kalian berjalan baik
- Kalian sama-sama memulai percakapan, meski tidak selalu bergantian sempurna.
- Balasan datang dalam waktu yang masuk akal untuk kehidupan kalian. Teman yang kerja shift malam bukan berarti mengabaikanmu.
- Pesan menanggapi apa yang kamu katakan, bertanya tentangmu, dan menyambung obrolan dari sebelumnya.
- Rencana benar-benar dibuat, bukan cuma dibicarakan.
- Masa-masa sepi terasa seperti jeda di hari yang sibuk, bukan ujian.
Dan tanda-tanda ada yang tidak beres:
- Kamu yang memulai hampir setiap percakapan dan balasannya singkat-singkat.
- Kamu menyusun pesan secara strategis, menahan balasan supaya terkesan kurang berminat daripada yang sebenarnya.
- Berkirim pesan sudah menggantikan pertemuan, bukan mengarah ke sana.
- Dia hangat larut malam tapi samar di siang hari, dan rencana tak pernah benar-benar terwujud. Sinyal campur aduk menjelaskan cara membacanya.
Apa yang dikirim saat tidak ada hal penting untuk diceritakan
Sebagian besar pesan dalam hubungan yang baik itu kecil: sebuah lagu, sebuah pemandangan, pertanyaan tentang harinya. The Gottman Institute menyebut upaya kecil untuk menarik perhatian ini sebagai “bid” untuk terhubung, dan dalam penelitian jangka panjangnya terhadap pasangan pengantin baru, pasangan yang masih bersama enam tahun kemudian jauh lebih sering menanggapi bid satu sama lain dengan hangat dibanding pasangan yang kemudian berpisah. Sebuah pesan adalah sebuah bid. Menanggapinya dengan minat adalah tindakan kecil penuh perhatian.
Kalau kamu menahan “lagi kepikiran kamu” karena takut terlalu berlebihan, bayangkan menerimanya dari dia. Kebanyakan orang akan tersenyum, dan senyum itulah intinya.
Pesan-pesan mudah yang menjaga kehangatan tanpa memaksakan percakapan:
- Menyambung cerita: “Adikmu sudah memaafkanmu soal kue ulang tahun itu belum?”
- Sesuatu yang kamu lihat: “Anjing ini persis seperti yang kamu ceritakan.”
- Rencana kecil: “Ke pasar Sabtu pagi?”
- Ucapan semoga berhasil atau selamat malam yang menunjukkan kamu ingat apa yang dia hadapi hari itu.
Cara membicarakan soal berkirim pesan tanpa membuatnya jadi masalah besar
Kalau ritme kalian tidak cocok, katakan lebih awal dan dengan baik, sebagai preferensi bukan keluhan. Orang memang berbeda soal ini: sebagian suka percakapan mengalir sepanjang hari, sebagian lagi menyimpan semuanya untuk telepon di malam hari. Keduanya sama-sama wajar. Menebak-nebak itulah yang menimbulkan masalah.
- “Aku payah kalau harus kirim pesan di jam kerja, jadi kalau aku diam itu bukan karena kamu. Tapi aku senang banget dengar kabar dari kamu.”
- “Aku suka banget teleponan malam kita. Mau kita jadikan kebiasaan?”
- “Kamu lebih suka aku kirim pesan singkat kalau aku telat, atau itu berlebihan?”
Kalau percakapan kalian terasa datar, bukan sekadar jarang, itu masalah lain, dan pengirim pesan datar atau memang tidak tertarik? membantumu membedakan keduanya.
Saat cara dia mengirim pesan berubah
Penurunan balasan yang tiba-tiba bisa terasa seperti vonis. Biasanya itu cuma minggu yang sibuk: tenggat kerja, kunjungan keluarga, ponsel yang tertinggal di mode senyap. Lihat gambaran besarnya — apakah dia masih membuat rencana, masih terlihat senang bertemu denganmu? — sebelum memaknai sebuah Selasa yang sepi. Kalau perubahan itu berlanjut, tanyakan sekali saja dengan sederhana: “Kamu kelihatan sibuk banget belakangan ini. Semua baik-baik saja?” Dan kalau kamu tergoda mengirim tiga pesan ke dalam keheningan itu, perlukah double text layak dibaca dulu.
Di mana IF berperan: bid yang belum bisa kamu kirim
Di suatu tempat di ponselmu ada sebuah nama yang akan kamu kirimi pesan setiap hari kalau bisa. Dalam istilah panduan ini, setiap pesan adalah bid, upaya kecil menarik perhatian dengan harapan mendapat balasan hangat, dan sebagian bid belum bisa dikirim. Orang yang membuat pesta Sabtu lalu terasa istimewa sedang dekat dengan seseorang, atau kamu yang sedang, dan obrolan bolak-balik setiap hari dengannya bukanlah sesuatu yang boleh kamu mulai.
Perasaan-perasaan itulah yang dijaga IF: perasaan yang bermula di dunia nyata dan belum bisa ditindaklanjuti hari ini, siapa pun orangnya dan apa pun yang sedang terjadi pada kalian berdua. Ditulis dengan jujur dan dikirim sekali, IF disimpan sampai menindaklanjutinya menjadi mungkin.
Sebuah IF adalah satu-satunya bid yang tidak menuntut balasan malam ini. Tersegel, dibatasi 250 karakter, dan tak bisa dijawab selama salah satu dari kalian sedang dalam hubungan, IF tidak meninggalkan ritme yang harus dijaga dan tidak ada orang yang harus kamu imbangi. Sesuatu seperti: “Aku terus menulis pesan untukmu yang tak bisa kukirim. Ini satu-satunya yang penting: aku suka kamu. Suatu hari nanti aku ingin jadi orang yang mendoakanmu sebelum hari-hari besarmu.”
Yang sampai ke dia sementara itu, paling banyak, hanyalah kabar bahwa sebuah IF telah tiba; identitasmu dan kalimatmu menunggu saat terungkap. Kalau dia belum bergabung, IF ke email yang dia berikan mengirimkan satu undangan singkat, sementara IF ke nomor atau akun Instagram-nya tidak menghubungi siapa pun dan tetap menunggu kalau-kalau dia mendaftar. Dan kalau kalian berdua sama-sama lajang dan dia ada di IF, jalurnya biasa saja: sebuah Like, dan setelah diterima, chat di mana semua tips di atas berlaku.
IF tidak memungut biaya untuk IF pertamamu. Sebagian besar pesanmu berharap dibalas cepat. Tulislah satu yang senang dibalas nanti.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah wajar tidak mengirim pesan setiap hari saat sedang dekat dengan seseorang?
Wajar. Banyak orang yang bahagia dalam pendekatannya mengirim pesan beberapa kali seminggu dan menyimpan percakapan sungguhan untuk saat bertemu. Yang penting adalah apakah ritmenya cocok untuk kalian berdua dan apakah rencana tetap dibuat.
Siapa yang sebaiknya mengirim pesan lebih dulu dalam hubungan baru?
Siapa pun yang mau. Tidak ada aturan bahwa harus satu orang, dan bergantian adalah tanda yang baik. Kalau kamu selalu lebih dulu, coba beri jeda dan lihat apakah dia mengisinya.
Apakah mengirim pesan sepanjang hari tanda yang baik?
Bisa jadi, karena berkirim pesan terus-menerus sering datang bersama rasa bersemangat. Tapi itu bukan ukuran seberapa besar seseorang menyukaimu, dan sebagian orang yang mengirim pesan sepanjang hari justru kurang berminat bertemu. Perhatikan apakah pesan-pesan itu mengarah pada waktu bersama.
Seberapa cepat sebaiknya membalas pesan orang yang sedang kamu dekati?
Saat kamu bisa, dan dengan jujur. Menunda balasan supaya terkesan kurang tersedia biasanya malah merugikan, karena itu mengundang orang lain memainkan permainan yang sama. Balasan lambat dengan pesan hangat lebih baik daripada balasan cepat yang tidak mengatakan apa-apa.
Kirim pesan dengan cara yang terdengar seperti kalian berdua, dan biarkan ritmenya menemukan dirinya sendiri. Untuk orang yang ingin sekali kamu kirimi pesan tapi belum bisa, ada IF: katakan sekali, dan biarkan tersimpan sampai momennya tiba.