Cara Keluar dari Situationship, atau Memperjelas Statusnya
Entri No. 030 ·

Oleh Tim IF
Untuk keluar dari situationship, lakukan satu obrolan yang jelas, lalu bertindaklah sesuai yang kamu dengar. Bilang apa yang kamu mau, tanya apa yang dia mau, dan percayai jawabannya. Kalau kalian berdua mau pacaran, kalian baru saja memperjelas statusnya, dan situationship itu berakhir dengan cara terbaik. Kalau jawabannya samar — “jangan dikasih label dulu, ya”, “aku belum siap”, “kenapa harus diubah kalau sudah jalan?” — dan jawaban samar nggak cukup buatmu, akhiri dengan kata-kata, bukan dengan pelan-pelan menghilang, lalu beri dirimu jarak yang sungguhan. Itu saja caranya. Tahu harus berbuat apa bukan bagian yang sulit. Melakukannya saat kamu masih berharap, itu yang sulit.
Kalau kamu menghabiskan satu malam lagi bertanya-tanya apakah kamu boleh chat duluan, kamu bukan orang yang haus perhatian, dan kamu juga nggak naif. Ingin tahu posisimu itu jujur. Situationship susah ditinggalkan bukan tanpa alasan: selalu ada sedikit kehangatan untuk digenggam, tapi nggak pernah cukup kejelasan untuk melepaskan. Ketidakpastian itu bahkan bisa jadi bagian dari daya tariknya. Dalam satu eksperimen kecil, peserta paling tertarik pada profil orang yang ketertarikannya pada mereka belum pasti — lebih daripada orang yang katanya sangat menyukai mereka. Setiap pertanyaan tentang seseorang yang belum terjawab jadi satu alasan lagi untuk memikirkannya, dan kalau sudah cukup banyak dipikirkan, rasanya bisa mirip jatuh cinta.
Ada tiga jalan keluar yang jujur dari kondisi menggantung ini: perjelas statusnya, sepakati bahwa ini hubungan santai, atau pergi. Dan kalau semuanya berantakan dan salah satu dari kalian akhirnya bersama orang lain, IF memungkinkan kamu mengungkapkan perasaanmu, sekali saja, lewat pesan tersegel yang menunggu sampai kalian berdua single — jadi kalau suatu hari waktunya pas, kamu sudah ada di sana.
Apa itu situationship?
Situationship (di sini sering disebut HTS, hubungan tanpa status) adalah kedekatan romantis, sering juga fisik, dengan kebiasaan layaknya pacaran — sering menghabiskan waktu bareng, chat setiap hari, kadang menginap, dan punya lelucon sendiri — tapi tanpa nama, tanpa rencana bersama, dan tanpa kesepakatan apa pun soal hubungan ini sebenarnya apa. Lebih gampang dipahami kalau disandingkan dengan istilah-istilah di sekitarnya:
- Masa PDKT (talking stage) itu masih awal dan sedang menuju ke suatu arah: beberapa minggu saling chat dan kencan sambil saling mengenal.
- Kencan berarti rutin bertemu, mungkin belum eksklusif, tapi sudah bisa membicarakan mau dibawa ke mana.
- Friends with benefits itu santai karena disepakati: dua-duanya sudah bilang terang-terangan bahwa ini nggak akan ke mana-mana, dan dua-duanya oke dengan itu.
- Situationship itu santai karena dibiarkan begitu saja. Sudah berjalan cukup lama sampai terasa seperti sesuatu, tapi nggak ada yang bilang sesuatu itu apa.
Jadi bedanya bukan soal nggak ada label — di awal kencan juga belum ada label. Bedanya adalah apakah salah satu dari kalian merasa bisa memintanya.
Satu hal yang bukan situationship: kedekatan dengan orang yang sudah punya pasangan. Itu hubungan orang lain yang statusnya sudah jelas, dan meneruskannya diam-diam berarti selingkuh, dengan kamu ikut jadi bagian dari kebohongannya. Akhiri bagian yang dirahasiakan — ketemuan, chat tengah malam — tapi perasaannya belum tentu harus diakhiri. Perasaan itu jujur, dan sebuah IF bisa menyimpannya, tersegel, sampai kalian berdua single: di IF, nggak ada percakapan yang terbuka selama salah satu dari kalian punya pasangan.
Tanda-tanda kamu sedang dalam situationship
- Sudah berbulan-bulan, dan kamu masih bingung harus menyebut dia apa kalau ada teman yang tanya.
- Rencana selalu dadakan, jarang untuk minggu depan, dan kamu belum pernah diajak jadi pasangannya ke acara apa pun.
- Kamu hafal pesanan kopinya, tapi nggak kenal teman-temannya.
- Kalau ngomongin masa depan, jawabannya candaan, ciuman, atau ganti topik.
- Dia paling hangat larut malam, dan lebih pendiam di pagi hari.
- Kamu nggak tahu apakah dia juga dekat dengan orang lain, dan kamu takut bertanya.
- Mood-mu naik turun mengikuti balasannya, dan kamu mulai memangkas keinginanmu sendiri supaya nggak terkesan berlebihan.
Satu atau dua tanda ini bisa jadi cuma karena masih awal. Kalau kebanyakan muncul selama berbulan-bulan, itu sudah pola. Tanda terakhir paling penting, karena artinya kamulah yang menjaga semua ini tetap utuh — dengan menginginkan lebih sedikit.
Tentukan apa yang kamu mau sebelum bertanya apa yang dia mau
Pertama, jujurlah pada dirimu sendiri. Hanya ada tiga posisi, dan semuanya sah:
- Kamu mau pacaran dengan orang ini. Kalau begitu, kamu perlu memintanya.
- Kamu benar-benar nyaman dengan sesuatu yang santai. Kalau begitu, sebut saja santai, sepakati apa artinya, dan itu bukan situationship lagi.
- Kamu mau keluar. Kalau begitu, bilang sendiri, jangan menunggu untuk dilepaskan.
Kalau kamu belum tahu kamu yang mana, coba ini: bayangkan besok dia bilang, dengan lembut dan pasti, “Cuma sampai sini, nggak akan lebih.” Kalau yang muncul rasa lega, kamu lebih dekat ke posisi kedua. Kalau rasanya seperti berduka, itu posisi pertama, dan kamu boleh menginginkannya. Dan kalau pikiran pertamamu “bagus, berarti aku bisa pergi”, kamu sudah di posisi ketiga. Kalau kamu belum jelas apa yang kamu cari dari pasangan secara umum, mencari tahu apa yang sebenarnya kamu cari bikin obrolan ini jauh lebih mudah.
Cara bertanya “kita ini apa?”
Orang menunda obrolan ini karena rasanya bisa merusak hal yang sedang dibicarakan. Penelitian menunjukkan bahwa diam justru risiko yang lebih besar. Dalam studi enam minggu terhadap 135 pasangan yang sedang berkencan, orang yang merasa ragu menganggap obrolan soal hubungan lebih mengancam dan menghindarinya, dan menghindarinya di satu minggu memprediksi keraguan yang lebih besar di minggu berikutnya. Diam yang seolah melindungi sebuah situationship bisa jadi justru hal yang membuatnya tetap jadi situationship.
- Pilih momennya. Langsung bertatap muka, dalam keadaan sadar dan tenang — bukan lewat chat jam 1 pagi, dan bukan tepat setelah dia menghilang tiga hari.
- Mulai dari sisimu, bukan dengan vonis: “Aku suka banget apa yang kita punya, dan aku sadar aku mau kita resmi pacaran. Kalau kamu gimana?”
- Lalu berhenti bicara. Jedanya akan terasa lama. Biarkan saja.
- Dengarkan jawabannya, bukan suasananya. “Aku suka banget sama kamu” itu manis, tapi bukan jawaban dari “Kamu mau kita bersama?” Kamu bisa bilang dengan lembut: “Aku juga suka kamu. Yang aku tanya, kamu mau pacaran atau nggak.”
- Sepakati arti kata-katanya — bersama, eksklusif, jalani dulu dan lihat nanti. Soal menghapus profil kencan, itu obrolan tersendiri: kapan menghapus aplikasi kencan dan membicarakan eksklusivitas.
Kalau kamu takut dengan jawabannya
Kamu takut karena jawabannya penting — dan justru karena itu kamu berhak mendengarnya. “Nggak” yang jelas di bulan Maret jauh lebih murah harganya daripada “mungkin” yang samar sampai Desember. Putuskan dulu apa yang akan kamu lakukan untuk tiap jawaban, supaya kamu nggak perlu memutuskan sambil menatap wajahnya.
Cara mengubah situationship jadi pacaran
Kamu nggak bisa membujuk siapa pun supaya mau berpacaran, dan nggak ada strategi yang bisa membuat dia mau. Yang bisa kamu lakukan adalah memberinya kesempatan yang jelas dan adil untuk memilih, lalu perhatikan apakah dia mengambilnya.
Waktu juga berpengaruh. Psikolog dari Purdue menemukan bahwa seberapa siap seseorang merasa untuk berkomitmen sangat berkaitan dengan seberapa berkomitmen dia, dan orang yang merasa lebih siap sekitar 25% lebih kecil kemungkinannya untuk putus. Kesiapan adalah sesuatu yang dibawa seseorang dari dirinya sendiri; kamu nggak bisa memberikannya, sesabar atau semenyenangkan apa pun kamu.
Kemungkinan besar ini menuju ke suatu arah kalau dia:
- Membuat rencana denganmu seminggu atau sebulan ke depan, tanpa perlu dikejar-kejar.
- Mengajakmu masuk ke bagian lain hidupnya: teman, keluarga, bahkan hari Selasa yang membosankan.
- Menanggapi “kita ini apa?” dengan rasa ingin tahu, walaupun butuh sehari untuk memikirkannya.
- Mengubah sesuatu setelah obrolan itu, bukan cuma mengatakan sesuatu.
Kemungkinan besar nggak, kalau setiap obrolan berakhir dengan “kenapa sih harus ada label?”, kalau kamu dijauhkan dari dunianya yang lain, atau kalau keadaan membaik seminggu setelah tiap obrolan lalu kembali seperti semula.
Kalau dia bilang “aku belum siap”
Percayai dia. “Belum siap” adalah informasi, bukan teka-teki yang bisa kamu pecahkan dengan lebih sabar atau lebih sempurna. Pertanyaan sebenarnya adalah apakah kamu bisa hidup dengan “belum sekarang” yang nggak ada tanggalnya. Kalau bisa, menunggu adalah pilihan yang sah: tentukan berapa lama kamu mau memberinya waktu, dan pegang itu. Kalau nggak bisa, pergi bukanlah kegagalan dalam mencintai. Kami membahas apa biasanya arti “belum siap pacaran” secara terpisah.
Kadang orangnya tepat tapi waktunya belum, dan berharap dia berubah pikiran bukan hal yang memalukan. Kalau orang yang belum siap itu akhirnya bersama orang lain, kamu tetap bisa mengungkapkan perasaanmu sekali lewat IF dan membiarkannya menunggu sambil kamu menjalani hidupmu. Orang yang tepat, waktunya belum pas? Tunggu dia di IF.
Cara keluar dari situationship dengan baik-baik
Kalau jawabannya bukan yang kamu butuhkan, atau kamu memang mau keluar, akhiri dengan layak. Situationship yang dibiarkan memudar akan tetap terbuka di kepalamu.
- Ucapkan dengan kata-kata — langsung kalau bisa, lewat telepon atau pesan kalau nggak bisa. Diam sampai dia sadar sendiri itu cuma situationship dengan cara lain.
- Singkat saja dan fokus pada dirimu: “Aku sadar aku mau pacaran, dan aku rasa ini nggak akan jadi ke sana. Aku senang banget dengan waktu kita, tapi aku harus berhenti ketemu kamu.” Kalau kamu justru mau yang lebih ringan, sampaikan sama jelasnya: “Aku menikmati ini, tapi ini bukan yang aku mau, dan aku nggak mau cuma menghilang begitu saja.”
- Jangan bernegosiasi saat itu juga. Kalau dia tiba-tiba menawarkan lebih, bilang kamu butuh waktu untuk berpikir: kamu mau “iya” yang bertahan, bukan “iya” yang ada cuma supaya semuanya tetap seperti sekarang.
- Jujurlah soal pintu yang tersisa. “Mungkin suatu hari nanti” memang melunakkan perpisahan, tapi susah dijalani kalau bikin kamu terus mengecek ponsel. Kalau kamu memang bersungguh-sungguh, katakan sekali dengan jelas, lalu biarkan hidupmu terisi kembali.
Kamu nggak berutang penjelasan yang lebih panjang dari itu. Kalau dia membalas dengan marah atau menekan, pesan yang jelas tetap sudah cukup, dan membisukan atau memblokirnya setelah itu bukan hal yang jahat. Kalau dia terus menghubungimu setelah kamu bilang tidak, berhenti membalas dan ceritakan pada teman yang kamu percaya.
Cara move on dari situationship
Mengakhiri sesuatu yang nggak pernah punya nama bisa terasa sakit dengan cara yang sepi. Teman mungkin bilang “kan kalian nggak pernah benar-benar jadian”, dan kamu mungkin setengah percaya. Kalian bersama dalam segala hal kecuali sebutannya, dan duka nggak butuh label untuk dianggap nyata.
- Bisukan atau unfollow dia untuk sementara. Dalam sebuah studi terhadap 464 orang setelah putus, memantau halaman Facebook mantan berkaitan dengan lebih banyak tekanan batin dan kerinduan, serta pertumbuhan diri yang lebih sedikit. Berakhirnya situationship itu juga putus, apa pun sebutan orang untuknya.
- Tulis pesan tengah malam itu, lalu tidurlah dulu alih-alih mengirimnya jam 2 pagi; sebagian besar dorongannya hilang saat pagi. Kalau ada satu kalimat jujur yang tetap bertahan, simpan — kalau salah satu dari kalian akhirnya bersama orang lain, itulah awal sebuah IF.
- Berdukalah untuk kemungkinannya, bukan cuma orangnya. Sebagian besar yang kamu rindukan adalah sosok yang mungkin bisa dia jadi untukmu, itulah kenapa move on dari seseorang yang nggak pernah resmi kamu pacari bisa makan waktu lebih lama dari dugaanmu.
- Kenali polanya, pelan-pelan. Kalau ketidakpastian terus terasa seperti chemistry, itu lingkaran, bukan kekurangan, dan menyadarinya adalah langkah pertama untuk keluar.
Rasanya akan membaik, meski lebih lambat dari perkiraan teman-temanmu dan nggak selalu lurus. Kalau setelah beberapa minggu masih terasa berat, atau mulai menyita pekerjaan, tidur, dan waktu dengan teman, bicaralah dengan seseorang; kamu nggak harus menanggungnya sendirian.
Di mana IF berperan: dua status, tanpa “rumit”
IF adalah aplikasi kencan untuk semua orang, single maupun yang punya pasangan, yang dibangun di atas satu aturan yang keras kepala: hanya ada dua status itu, dan nggak ada “rumit”. Dua orang single memakai IF seperti aplikasi kencan lainnya — Like yang diterima membuka chat — dan statusmu tampil di profil untuk dilihat semua orang, jadi nggak ada label setengah-setengah untuk ditinggali berlama-lama.
Kamu juga bisa menyebutkan apa yang kamu cari: Jangka panjang, Jangka pendek, Santai, Teman, atau Terbuka (terbuka untuk apa saja, bukan hubungan terbuka). Status dan apa yang kamu cari sama-sama kamu isi sendiri, jadi keduanya membuka obrolan, bukan menggantikannya — dan di IF, pertanyaan yang selalu dihindari situationship bisa sudah terjawab sebelum pesan pertama.
Dan saat waktunya meleset — dia belum siap, dan sekarang salah satu dari kalian bersama orang lain — sebuah IF memberi perasaan itu tempat untuk pergi: pesan pribadi tersegel hingga 250 karakter yang baru terbuka setelah kalian berdua single. Di IF, nggak pernah ada percakapan yang terbuka selama salah satu dari kalian punya pasangan. Kalau kamu single dan dia jadi single, kamu punya waktu 24 jam untuk membuka IF-mu; kalau kamu yang punya pasangan dan dia single, IF-mu terbuka saat kamu mengubah statusmu sendiri jadi single. Setelah terbuka, dia melihat profil dan pesanmu lalu memilih mau menerima atau nggak, dan menerimanya akan membuka chat dengan IF-mu sebagai pesan pertama.
Dia nggak harus sudah ada di IF: kamu bisa menemukannya lewat Pencarian dengan alamat email, nomor telepon, atau akun Instagram-nya. IF yang dikirim ke alamat email yang pernah dia berikan padamu memicu satu email undangan singkat, tanpa namamu dan tanpa kata-katamu; IF yang dikirim ke nomor telepon atau akun Instagram nggak mengirim apa-apa dan cuma menunggu, siapa tahu dia bergabung. Kalau dia sudah ada di IF, dia mungkin diberi tahu ada IF yang menunggu, tapi nggak pernah siapa pengirimnya atau apa isinya, meski dia mungkin bisa menebak dari konteks. IF pertamamu gratis, dan cara kerja IF membahas semua kemungkinannya.
Mengungkapkan perasaanmu sekali, dengan jelas, lalu membiarkannya menunggu adalah keberanian yang nggak pernah diminta situationship dari siapa pun. Mungkin itu membawa kalian kembali satu sama lain, atau ke tempat yang memang seharusnya sejak awal.
Pertanyaan yang sering muncul
Biasanya situationship bertahan berapa lama?
Nggak ada durasi yang umum: ada yang cuma beberapa minggu, ada yang terus mengambang sampai bertahun-tahun. Arah lebih penting daripada durasi. Kalau bulan keenam terasa persis sama dengan bulan kedua dan kamu mau lebih, kamu sebenarnya sudah punya jawabannya.
Bagaimana kalau orang yang situationship denganmu mulai pacaran dengan orang lain?
Rasanya perih, apalagi kalau dia dulu bilang belum siap. Kamu bisa mengungkapkan perasaanmu, tapi membuka hati pada orang yang baru menjalin hubungan punya risiko nyata: itu menempatkannya di posisi sulit dan bisa bikin setiap pertemuan jadi canggung. Mungkin lebih baik kamu mengirim IF, supaya kalau suatu hari waktunya pas, kamu ada di sana untuk menunjukkan betapa kamu selalu menyukainya. IF nggak menuntut apa pun darinya sekarang, dan chat baru terbuka kalau suatu hari kalian berdua single dan dia memilih untuk menerima.
Bisakah mengakhiri situationship lewat chat?
Bisa, kalau sebagian besar obrolan kalian memang lewat chat, kalau ketemu dia bakal menarikmu kembali, atau kalau bertemu langsung terasa terlalu berat. Buat sejelas kalau kamu bicara langsung: “Aku sadar aku mau lebih dari ini, dan aku rasa ini nggak akan jadi ke sana. Aku senang banget dengan waktu kita, tapi aku mundur.” Lalu jadikan itu pesan terakhir, bukan awal negosiasi.
Apakah situationship sama dengan friends with benefits?
Bukan. Friends with benefits adalah kesepakatan bahwa ini santai; situationship adalah ketiadaan kesepakatan apa pun. Kalau kalian berdua bilang “ini santai, dan nggak apa-apa” dan sungguh-sungguh, kalian sudah mengubah yang satu menjadi yang lain. Istilah lainnya ada di glosarium istilah kencan modern kami.
Bisakah tetap berteman setelah situationship?
Mungkin, nanti. Tepat setelahnya, “teman” bisa berarti pengaturan yang sama tanpa ciuman, dan itu berat bagi yang menginginkan lebih. Beri jarak dulu, dan jujurlah pada dirimu sendiri apakah pertemanan memang yang kamu mau. Kalau yang kamu mau sebenarnya lebih, kamu nggak perlu pura-pura sebaliknya: kalau dia akhirnya bersama orang lain, sebuah IF bisa menyimpan perasaan itu sampai kalian berdua single.
Kamu berhak menginginkan nama untuk apa yang kalian punya. Tanyakan sekali, dengan jelas, dan percayai jawabannya — dan di mana pun waktu kalian berlabuh, IF punya cara untuk mengatakannya: Like saat kalian berdua single, dan IF yang menunggu saat belum.