Jatuh Cinta pada Seseorang yang Akan Menikah?
Entri No. 087 ·

Oleh Tim IF
Jika kamu jatuh cinta pada seseorang yang akan menikah, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun, dan kamu sama sekali bukan satu-satunya. Pertanyaan yang terus membebani pikiranmu — haruskah aku memberitahunya sebelum pernikahan? — punya jawaban sederhana. Kamu bisa, tapi pengakuan di minggu-minggu terakhir jarang berakhir seperti yang dijanjikan film: ia datang di tengah rencana yang melibatkan pasangannya, keluarga mereka, dan semua orang yang dia sayangi. Kamu juga punya pilihan yang lebih tenang: menyimpan perasaan itu sampai hitungan mundur selesai, menjauh dari hiruk-pikuk persiapan, atau mengatakannya sekarang lewat IF tersegel yang tetap tersembunyi sepanjang pernikahan dan hanya terbuka jika suatu hari kalian berdua sama-sama lajang.
Jatuh cinta pada seseorang yang sudah punya pasangan itu jujur, bukan bodoh. Mungkin dia teman yang kamu kenal sejak kuliah, yang kartu save the date-nya kini menempel di kulkasmu. Mungkin dia rekan kerja yang terus menunjukkan foto-foto calon tempat resepsi, atau teman dari teman yang terus ada di pikiranmu sejak kamu mendengar dia bertunangan. Untuk gambaran yang lebih luas, mulailah dari pilihan nyatamu saat seseorang sudah punya pasangan.
Kenapa rasanya begitu mendesak menjelang pernikahan?
Karena pertunangan mengubah rasa nyeri yang pelan menjadi hitungan mundur. Saat mereka masih sekadar pacaran, perasaan itu bisa tinggal di latar belakang, diredam oleh perasaan samar bahwa apa pun masih bisa terjadi. Tanggal pernikahan memberinya angka. Setiap minggu yang lewat terasa seperti pintu yang menutup, dan setiap film yang pernah kamu tonton menceritakan kisah yang sama: seseorang berlari masuk ke gereja, mengungkapkan isi hatinya, dan diganjar atas keberaniannya.
Kehidupan nyata tidak mengikuti naskah. Bahkan kalimat yang dipinjam film — “bicaralah sekarang atau diam untuk selamanya” — tidak pernah dimaksudkan sebagai undangan untuk menyatakan cinta. Dalam upacara pernikahan tradisional di gereja, kalimat itu menanyakan apakah ada yang mengetahui alasan sah mengapa pasangan itu tidak boleh menikah, misalnya pernikahan yang masih berlaku, bukan apakah ada yang punya perasaan pada salah satu dari mereka. Pertunangan adalah keputusan yang sudah diambil dua orang. Tenggat itu terasa milik mereka, tapi rasa terburu-buru itu milikmu, dan rasa terburu-buru adalah penasihat yang buruk. Hitungan mundur itu menuju pernikahan mereka, bukan menuju akhir kesempatanmu untuk mengungkapkan perasaan.
Tapi ada sesuatu yang benar di balik kepanikan itu. Dalam studi tentang bagaimana penyesalan berubah seiring waktu, hal-hal yang sudah dilakukan orang paling menyakitkan dalam jangka pendek, tapi seiring tahun yang paling mereka sesali justru hal-hal yang tidak mereka lakukan. Jadi, rasa takut duduk di antara para tamu dengan kata-kata yang tak terucap layak dihargai. Harga sebuah pengakuan sekarang akan dibayar dengan janji nikah mereka, foto-foto mereka, dan tahun pertama pernikahan mereka. Kata-kata yang menunggu — ditulis, disegel, dan hanya dibuka jika suatu hari kalian berdua sama-sama lajang — menghormati rasa takut akan penyesalan tanpa membebankannya pada orang lain.
Haruskah aku memberitahunya sebelum pernikahan?
Kamu bisa. Itu perasaanmu, dan sebagian orang lebih suka tahu daripada dilindungi darinya. Tapi membuka hati sedekat ini dengan hari pernikahan membawa risiko lebih besar daripada hampir kapan pun, jadi bayangkan dulu apa yang sebenarnya akan ditimbulkan pengakuan itu sebelum kamu memutuskan. Haruskah memberi tahu seseorang yang sudah punya pasangan bahwa kamu menyukainya membahas pertanyaan yang lebih luas.
Apa yang diminta darinya
Pengakuan sekarang meminta orang yang kamu cintai untuk membuka kembali sebuah keputusan di bawah tekanan besar, saat uang muka sudah dibayar, tamu sudah diundang, dan pasangannya ada di sisinya. Bahkan pengakuan yang paling lembut pun meninggalkannya dengan pertanyaan yang tidak pernah dia minta, termasuk apa yang harus dia katakan kepada tunangannya. Lagi pula, menolak seseorang itu sulit bahkan dalam keadaan biasa. Dalam penelitian tentang sisi lain cinta tak berbalas, orang yang harus menolak pengagumnya sering merasa bersalah atas luka yang mereka timbulkan dan tidak tahu cara melakukannya dengan baik. Sekarang tambahkan sebuah pernikahan ke dalamnya.
Apa yang diminta dari pasangannya
Pasangannya tidak melakukan kesalahan apa pun. Pengakuan di menit terakhir bisa membayangi hari yang sudah mereka rencanakan berbulan-bulan, dan pernikahan yang bahkan belum dimulai. Apa pun perasaanmu, dia tidak memilih untuk terseret ke dalamnya.
Apa yang harus kamu bayar
Pengakuan seperti ini bisa mengakhiri persahabatan, atau diam-diam mengubahnya untuk selamanya. Kamu mungkin kehilangan undangan, teman-teman bersama, dan kedekatan yang dulu terasa mudah. Dan jika ceritanya menyebar, kamu berisiko dikenang sebagai orang yang mencoba menggagalkan pernikahan, padahal kamu hanya ingin jujur.
Jika kamu memutuskan untuk memberitahunya
Jika kamu memang mengungkapkan perasaanmu sebelum pernikahannya, lakukan secara pribadi dan sedini mungkin, jangan pernah di bachelor party, bridal shower, atau resepsi. Cukup satu kalimat jujur yang tidak meminta apa pun, dan jika dia meminta ruang, berikanlah.
Atau katakan lewat IF, dan biarkan ia menunggu
Kamu tidak harus memilih antara membuat drama atau diam. Ada jalan tengah, dan mungkin kamu justru lebih baik mengambilnya. IF memungkinkanmu mengatakan persis apa yang kamu rasakan malam ini juga, dalam pesan pribadi dan tersegel hingga 250 karakter. Pesan itu tetap tersegel sepanjang pertunangan dan pernikahan, selama salah satu dari kalian masih berstatus sudah punya pasangan di IF, dan tidak ada percakapan yang bisa terbuka di antara kalian sampai kalian berdua sama-sama lajang. Tidak ada yang perlu berubah di hari bahagia mereka. Dan jika suatu hari waktunya tepat, hal pertama yang dia baca darimu adalah kata-kata yang kamu tulis sebelum pernikahan, yang menunjukkan sudah berapa lama, dan seberapa dalam, kamu mencintainya.
Bagaimana jika kamu merasa dia juga merasakan hal yang sama?
Ini versi yang paling sulit, dan sering kali alasan orang tergoda untuk bicara. Mungkin ada tatapan panjang dan obrolan hingga larut malam, momen yang terasa lebih dari sekadar persahabatan. Mungkin dia pernah bilang dia gugup menjelang pernikahan.
Jika dia benar-benar merasakan hal yang sama, dia orang dewasa yang punya kuasa untuk mengubah rencananya sendiri. Membatalkan pertunangan adalah keputusan yang harus jadi miliknya, diambil dengan alasannya sendiri dan pada waktunya sendiri. Dalam studi tentang hubungan yang dimulai ketika salah satu pasangan direbut dari orang lain, awal seperti itu cenderung lebih goyah dibanding hubungan yang dimulai dengan bebas. Itu argumen soal waktu, bukan argumen melawan kalian berdua: jika sesuatu memang akan dimulai di antara kalian, biarkan ia dimulai setelah keputusannya, di atas pijakannya sendiri — dan itulah tepatnya yang ditunggu oleh IF.
Jika dia curhat soal keraguannya padamu, dengarkan, dan jadilah teman yang baik. Gugup menjelang pernikahan itu wajar, dan itu urusan dia dan pasangannya untuk diselesaikan. Kamu tidak perlu berpura-pura tidak merasakan apa-apa, atau menjadikan perasaanmu bagian dari keputusannya. IF memungkinkanmu memegang keduanya: perasaanmu sudah terucap dan tersegel, dan tidak ada percakapan yang bisa terbuka di IF selama salah satu dari kalian sudah punya pasangan. Dia mungkin diberi tahu bahwa ada IF yang menunggunya dan menebak itu darimu, jadi pilih momenmu dengan hati-hati; apa pun keputusannya, itu sepenuhnya miliknya.
Gebetanku bertunangan. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Apa pun keputusanmu soal mengatakannya, minggu-minggu menjelang pernikahan bisa terasa sangat berat, jadi buatlah rencana untuk dirimu sendiri:
- Ucapkan keputusanmu dengan lantang. Ceritakan pada satu orang yang kamu percaya apa yang sudah kamu putuskan — tidak mengatakan apa-apa, mengirim IF, atau membiarkannya dulu lebih lama. Keputusan yang diucapkan lebih mudah dipegang, dan mengakhiri perdebatan harian dengan dirimu sendiri.
- Menjauhlah dari hiruk-pikuk persiapan. Bisukan unggahan foto pertunangan, serahkan grup chat soal denah tempat duduk pada orang lain, dan berhenti mengecek hitungan mundur. Kamu tidak wajib duduk di barisan terdepan untuk menyaksikan patah hatimu sendiri.
- Jujurlah soal peranmu. Jika kamu diminta menjadi bridesmaid, pagar ayu atau pagar bagus, best man, atau membacakan sesuatu, dan kamu tidak bisa melakukannya dengan sepenuh hati, mundurlah lebih awal, dengan lembut dan alasan yang sederhana; itu lebih baik bagi pasangan itu dan bagimu. Jika kamu bisa datang dan ikut bahagia untuk mereka, datanglah.
- Tulis apa yang ingin kamu katakan. Tuangkan semuanya ke atas kertas — kapan semua ini dimulai, apa yang kamu cintai darinya, apa yang kamu harap bisa berbeda. Surat yang tak pernah kamu kirim menjalankan sebagian besar tugas mengungkapkannya, dan kalimat yang paling penting bisa menjadi IF-mu.
- Isi kalendermu sendiri. Salurkan energimu ke teman-teman dan rencana yang sudah punya tanggal, supaya hidupmu terus berjalan sementara perasaan itu menunggu.
- Bicaralah dengan seseorang. Jika perasaan itu mulai menguasai tidurmu, pekerjaanmu, atau hari-harimu, menuangkannya ke dalam kata-kata bisa membantu; kamu tidak harus memikulnya sendirian.
Jika kamu akan datang ke pernikahannya
Datang bisa menjadi bentuk cinta, tapi juga bisa terlalu berat. Jika kamu datang, putuskan sejak awal berapa lama kamu akan tinggal, duduklah dekat teman yang tahu ceritanya, dan izinkan dirimu pulang sebelum acara dansa dimulai. Minumlah secukupnya: resepsi tengah malam adalah tempat terjadinya pengakuan yang paling disesali. Jika kamu sudah mengatakannya lewat IF, kamu tidak perlu mengatakannya di sana. Angkat gelasmu, ucapkan selamat setulus yang kamu bisa, lalu pulanglah.
Apakah aku akan berhenti mencintainya setelah dia menikah?
Tidak dalam semalam. Pernikahan bukan penghapus ajaib. Bagi banyak orang, perasaan itu mereda setelah hitungan mundur selesai, karena ketidakpastianlah yang selama ini memupuknya, dan ia mereda lebih cepat dengan lebih jarang bertemu, lebih sedikit foto, dan lebih banyak hidupmu sendiri. Bagi sebagian lain, perasaan itu bertahan, dan itu bukan kegagalan. Jika setahun setelah dia menikah kamu masih mencintainya, jatuh cinta pada pria atau wanita yang sudah menikah ditulis tepat untuk itu.
Menunggunya juga sah. Percaya bahwa seseorang adalah orang yang tepat di waktu yang salah bukanlah kebodohan; itu harapan. Versi yang sehat adalah mengatakannya sekali, lewat IF, lalu terus menjalani hidupmu. Apakah hidupnya akan berubah, itu terserah dia, tapi jika berubah, kata-katamu akan menunggu, siap menunjukkan sudah berapa lama kamu merasakan ini. Orang yang tepat, waktu yang salah? Tunggu dia di IF.
Di sinilah IF berperan
Mencintai seseorang di masa pertunangannya adalah salah satu tempat tersulit bagi sebuah perasaan untuk mendarat: terlalu besar untuk diabaikan, terlalu salah waktu untuk diucapkan. IF adalah aplikasi kencan untuk semua orang, lajang maupun sudah punya pasangan, yang dibuat persis untuk ini: mengatakan kepada siapa pun apa yang kamu rasakan, kapan pun kamu merasakannya, dalam pesan pribadi dan tersegel yang menunggu waktu yang tepat.
Itulah yang membuatnya jadi katup pelepas. Kamu bisa mengirim IF kepada orang yang kamu cintai malam ini juga, dan tidak ada yang perlu berubah dari pernikahan mereka. Tidak ada Like, match, atau chat yang mungkin terjadi selama salah satu dari kalian berstatus sudah punya pasangan, jadi pasangan itu tetap melangkah, hari bahagia tetap berlangsung, dan pesanmu tetap tersegel sepanjang waktu. Jika suatu saat dia menjadi lajang saat kamu juga lajang, kamu punya 24 jam untuk mengungkapnya. Jika kamu mengungkapnya, dia akan melihat siapa kamu dan apa yang kamu tulis, lalu memilih untuk menerimanya atau tidak. Dan jika kamu sendiri sudah punya pasangan, kamu tetap bisa mengirimnya: IF itu hanya menunggu sampai kalian berdua sama-sama lajang.
Ada baiknya kamu tahu bagaimana IF itu sampai kepadanya. Jika dia ada di IF, biasanya dia akan diberi tahu bahwa ada IF yang menunggunya — tidak pernah siapa pengirimnya atau apa isinya — dan dia bisa menghapusnya jika mau. Jika dia belum ada di IF, IF yang dikirim ke alamat email yang dia berikan kepadamu akan memicu satu email undangan singkat, tanpa namamu atau kata-katamu, sedangkan IF yang dikirim ke nomor telepon atau akun Instagram tidak mengirim apa pun dan menunggu kalau-kalau dia bergabung. IF tidak pernah mengungkap pengirimnya sebelum IF itu dibuka. Meski begitu, dia tetap bisa menebak dari konteks. Dengan mengetahui semua itu, pilihannya, dan kapan kamu mengirimnya, sepenuhnya ada di tanganmu.
Pernikahan mereka adalah pilihan mereka. Perasaanmu adalah milikmu, dan jika kebenaran emosionalmu adalah bahwa kamu akan memilihnya, kamu bisa mengatakannya lewat IF yang membiarkan mereka menikmati hari bahagia mereka dan memberimu sesuatu yang nyata untuk diharapkan. IF pertamamu gratis, dan cara mengirim IF yang sempurna akan membantumu menemukan kata-katanya. Menulisnya butuh sedikit keberanian, dan justru di situlah intinya: kamu mengatakannya sekali, bersungguh-sungguh dengan setiap katanya, lalu IF itu yang menunggu sementara kamu melanjutkan hidupmu. Jika suatu hari waktunya tepat, ia bisa membawamu ke tempat yang memang seharusnya kamu tuju sejak awal.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bagaimana aku harus bersikap padanya sampai hari pernikahan?
Tetap hangat, tapi sedikit berjarak. Jaga sisi persahabatanmu tetap biasa saja, dan pelan-pelan mundur dari telepon larut malam dan minum berdua, saat-saat ketika perasaan itu paling memuncak. Jika dia bertanya kenapa kamu jadi lebih pendiam, beri jawaban yang jujur dan sederhana: kamu sedang banyak pikiran, dan kamu ingin hari itu berjalan indah untuk mereka. Jika kamu ingin dia tahu alasan sepenuhnya suatu hari nanti, IF bisa menyimpannya sampai saat itu tiba.
Apakah salah jatuh cinta pada seseorang yang sudah bertunangan?
Tidak. Perasaan datang tanpa minta izin, dan mencintai seseorang yang sudah punya pasangan tidak menjadikanmu orang jahat. Itu menjadikanmu jujur. Satu-satunya batas adalah selingkuh dan berbohong: tidak bermain di belakang siapa pun, tidak menguji hubungan mereka, tidak ada yang perlu disembunyikan. Semua yang masih dalam batas itu adalah keputusanmu, termasuk mengatakannya lewat IF tersegel, karena tidak ada percakapan yang bisa terbuka di IF selama salah satu dari kalian sudah punya pasangan.
Bagaimana jika aku punya peran di pernikahan mereka?
Putuskan sejak awal apakah kamu sanggup berdiri di samping mereka dan ikut bahagia, karena mundur beberapa minggu sebelumnya jauh lebih baik daripada beberapa hari sebelum acara. Jika kamu harus memberi sambutan, fokuskan pada mereka berdua dan minta orang yang kamu percaya membacanya lebih dulu; perasaan punya cara untuk bocor ke dalam sebuah toast. Hari pernikahan itu sendiri bukan tempat untuk mengungkapkan perasaanmu, dan jika memang harus diungkapkan, IF bisa melakukannya tanpa keributan.
Bagaimana jika mereka membatalkan pernikahan?
Maka itu keputusan mereka, dan seharusnya tetap begitu. Pertunangan yang batal adalah kehilangan yang nyata, bahkan bagi orang yang mengakhirinya, jadi beri mereka waktu. Jika kamu sudah mengirim IF dan dia mengubah statusnya menjadi lajang saat kamu juga lajang, kamu punya 24 jam untuk memutuskan apakah akan mengungkapnya, jadi momen itu tetap milikmu. Berapa lama menunggu setelah putus sebelum mengajak seseorang berkencan membahas lebih jauh soal waktu yang tepat.
Haruskah aku memberitahunya setelah pernikahan saja?
Kamu bisa, tapi menunggu sampai setelah janji nikah tidak membuat pengakuan lebih mudah didengar; itu hanya memindahkan beban yang sama ke bulan-bulan pertama pernikahan. Jika perasaan itu masih ada saat itu, IF bisa mengatakannya tanpa meminta apa pun darinya: IF tetap tersegel selama salah satu dari kalian berstatus sudah punya pasangan, dan hanya terbuka jika suatu hari kalian berdua sama-sama lajang.
Mencintai seseorang hingga hari pernikahannya butuh keberanian yang tenang. Katakan lewat IF, biarkan mereka menikmati hari bahagia mereka, dan biarkan kata-katamu menunggu — jika suatu hari waktunya tepat, kamu sudah ada di sana.