Dia Sudah Punya Pasangan tapi Bilang Suka Sama Kamu. Terus Gimana?

Entri No. 099 ·

Di tangga batu yang lebar di depan gedung kampus, di bawah matahari sore, seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh tahun dengan hoodie longgar dan celana jeans lebar duduk bersama dua temannya yang seusia; sebuah tas tote polos berwarna merah muda tua tergeletak di dekat kakinya. Dia tersenyum, kaget sekaligus diam-diam senang, saat salah satu temannya mencondongkan badan untuk mengatakan sesuatu dan yang lain tertawa. Beberapa anak tangga di atasnya, seorang cowok seusianya duduk di samping pacarnya dan menoleh ke arahnya. Tidak ada papan tanda, logo, atau tulisan apa pun.

Oleh Tim IF

Saat seseorang yang punya pasangan bilang dia suka sama kamu, artinya dia punya perasaan padamu dan memilih untuk mengatakannya sebelum memutuskan apa pun soal hubungan yang sedang dia jalani. Itu pengakuan yang jujur, belum sebuah keputusan. Respons yang tenang tetap sama, baik dia cowok yang punya pacar, cewek yang punya pacar, atau orang yang sudah menikah: ucapkan terima kasih, ambil waktumu, jujurlah soal perasaanmu, dan pastikan apa pun yang terjadi selanjutnya berlangsung secara terbuka. Hubungannya adalah urusannya untuk diputuskan, sesuai waktunya sendiri.

Kalau kamu juga merasakan hal yang sama, pilihanmu lebih banyak daripada sekadar “aku juga” atau “kita nggak bisa”. Kamu bisa bilang ke dia, kamu bisa menunggu, atau kamu bisa mengatakannya lewat IF: pesan tersegel yang baru terbuka saat kalian berdua sudah single. IF adalah aplikasi kencan untuk semua orang, apa pun status hubungannya, dan nggak ada percakapan yang bisa dimulai di sana selama salah satu dari kalian masih punya pasangan. Jadi IF nggak pernah meminta siapa pun untuk selingkuh atau berbohong, dan hanya dua batas itulah yang penting di sini.

Pengakuan seperti ini jarang datang di waktu yang pas. Mungkin kamu mendengarnya di peron stasiun, dari rekan kerja yang masih berlama-lama setelah semua orang pulang, atau lewat pesan jam 1 pagi yang diawali dengan “Mungkin aku nggak seharusnya bilang ini, tapi…” Kamu mungkin merasa tersanjung, gelisah, berharap, atau ketiganya sekaligus. Kamu nggak naif karena merasakan semua itu, kamu nggak bertanggung jawab atas apa yang dia katakan, dan kalau sebagian dirimu senang, itu juga nggak salah.

Panduan ini untuk momen saat seseorang yang punya pasangan mengatakannya terang-terangan. Kalau kamu masih menebak-nebak dari kode, mulai dari tanda-tanda orang yang sudah punya pasangan suka sama kamu. Kalau orang yang mengaku itu single, cara merespons saat seseorang bilang suka sama kamu adalah versi yang lebih sederhana dari obrolan ini.

Apa artinya kalau orang yang punya pasangan bilang suka sama kamu

Kata-kata itu nggak bisa memberitahumu dari mana perasaan itu datang atau seberapa dalam. Kalimat yang sama bisa berasal dari tempat yang sangat berbeda:

  • Perasaan tulus yang belum dia pahami. Dia suka kamu, dia bingung, dan memendamnya terasa nggak jujur. Ini bisa terjadi pada orang baik.
  • Hubungan yang memang sudah berubah. Perasaan pada orang baru bisa muncul saat ada sesuatu di rumah yang sudah lama bergeser.
  • Harapan untuk keluar. Sebagian orang lebih mudah membayangkan pergi kalau ada seseorang yang dituju.
  • Kebutuhan untuk merasa dilihat. Mengatakannya bisa jadi cara untuk merasa diinginkan di masa sulit, tanpa niat mengubah apa pun dulu.
  • Harapan untuk nanti. Sebagian orang lebih suka kamu tahu sekarang, kalau-kalau suatu hari waktunya berubah — insting yang jadi dasar sebuah IF.
  • Momen, bukan rencana. Wine, malam yang larut, minggu yang berat. Ada pengakuan yang paginya terasa kurang berarti, ada juga yang justru makin berarti.

Kamu nggak bisa membedakannya hanya dari pengakuan itu. Waktu yang akan menunjukkan: apa yang dia lakukan selanjutnya, dan apakah perasaan itu bertahan melewati malam itu. Yang mengubah keadaan adalah keputusan tentang hubungannya, dan keputusan itu ada di tangannya, untuk diambil secara terbuka.

Apa yang diminta pengakuan itu darimu

Pengakuan seperti ini jarang datang dengan rencana. Yang ada, ia menyerahkan perasaan yang harus kamu jawab dan, sering tanpa diucapkan, sebuah peran: tempat curhat, rahasia, atau orang yang menunggu.

Kamu yang memilih peran mana yang mau kamu ambil. Jadi teman yang mau mendengarkan bisa kamu tawarkan, dan menunggu juga bisa jujur. Satu-satunya peran yang layak kamu tolak adalah jadi rahasia: apa pun yang harus terjadi di belakang orang lain mengubah perasaan jadi kebohongan, dan kebohongan menyakiti semua yang terlibat, termasuk kamu.

Cara merespons: hangat, jelas, dan sekali saja

Kamu nggak butuh pidato yang sempurna. Kamu butuh yang jelas. Beberapa prinsip ini berlaku apa pun perasaanmu:

  1. Ambil waktumu. Kamu nggak wajib menjawab malam ini. “Aku perlu memikirkan dulu apa yang kamu bilang” sudah merupakan jawaban yang utuh.
  2. Sebutkan batasanmu, bukan hubungannya. Kamu nggak perlu menilai pasangannya, cukup bilang apa yang mau dan nggak mau kamu lakukan.
  3. Katakan posisimu sekali saja, dengan kata-kata yang nggak bisa disalahpahami. Kode-kode terasa lebih halus saat itu, tapi bikin semua orang menebak-nebak.
  4. Tolak jalur rahasia: nggak ada telepon larut malam untuk “ngobrolin semuanya”, nggak ada pesan yang dihapus setelahnya. Lewat jalur pribadi seperti itulah sebuah pengakuan diam-diam berubah jadi hubungan rahasia.
  5. Jadilah teman, bukan penasihat hubungannya. Masalah dalam hubungannya pertama-tama harus dibicarakan dengan pasangannya.
  6. Beri dirimu ruang kalau perlu: lebih sedikit momen berdua, lebih sedikit chat, lebih banyak waktu dengan orang lain. Ruang membuat perasaan cukup tenang supaya kamu bisa berpikir.

Kalau kamu nggak merasakan hal yang sama, singkat saja: “Aku tersanjung kamu mau bilang, tapi aku nggak merasakan hal yang sama, dan aku lebih suka kita berhenti di sini.” Kalau kamu merasakannya, atau belum yakin, coba: “Aku senang kamu percaya sama aku. Tapi kamu sudah punya pasangan, dan aku nggak mau jadi rahasia siapa pun.”

Perhatikan apa yang dilakukan kalimat kedua. Kalimat itu jujur tentang hari ini dan nggak meminta apa pun dari hubungannya. Bilang “seandainya kamu single” langsung di depannya justru melangkah lebih jauh: bisa terdengar seperti hadiah yang menunggu di seberang perpisahan, beban yang nggak dibutuhkan kalian berdua. Kalau kamu ingin membiarkan pintu tetap terbuka, IF menjaganya tetap terbuka untukmu tanpa tekanan: tersegel, nggak meminta keputusan apa pun, dan baru terbuka saat kalian berdua sudah single.

Kalau kamu juga suka dia

Ini versi yang paling sulit, sekaligus yang paling penuh harapan. Mendengar orang yang bikin kamu tertarik ternyata merasakan hal yang sama itu bikin deg-degan, dan nggak ada salahnya kamu senang.

Kamu bisa bilang ke dia. Jujur soal perasaan itu butuh keberanian, dan dia sudah berani duluan padamu. Tapi bilang “aku juga” ke orang yang masih punya pasangan punya risiko nyata: itu bisa mengubah perasaan pribadinya jadi rahasia bersama, menekan hubungan yang belum dia putuskan nasibnya, dan nggak bisa ditarik kembali. Bisa jadi kamu lebih baik mengirim IF, supaya kalau suatu hari waktunya pas, kamu ada di sana untuk menunjukkan betapa kamu selalu menyukainya. Kalau dia sungguh-sungguh, dia juga bisa mengirimimu IF.

Lalu, menunggu? Kalau dia terasa seperti orang yang tepat di waktu yang salah, menunggu bukan hal bodoh; itu harapan. Versi yang menyakitkan menyusun hidupmu di sekitar perpisahan yang belum tentu terjadi. Versi yang sehat adalah mengatakannya sekali, lewat IF, lalu terus menjalani hidupmu sementara IF itu menunggu. Haruskah menunggu orang yang sudah punya pasangan membahas cara melakukannya dengan baik.

Mau dipertahankan atau diakhiri, hubungan itu keputusannya. Kalau berakhir, biarlah berakhir karena alasannya sendiri, dan kamu pun bisa memulai tanpa ada yang perlu dijelaskan.

Kalau berminggu-minggu kemudian hal itu masih menguasai hari-harimu — pengakuan itu terus terputar ulang di perjalanan — bicaralah dengan orang yang kamu percaya; kamu nggak harus memikulnya sendirian.

Pacar cewek, pacar cowok, suami, atau istri: apa yang berubah

Jawaban intinya tetap sama apa pun hubungannya. Hanya detailnya yang bergeser.

Dia punya pacar tapi bilang suka sama aku

Hubungan pacaran bisa terlihat kurang serius dari luar, jadi kita tergoda menganggap pacarnya cuma formalitas. Padahal bukan: dia manusia yang nggak berbuat salah apa pun hanya karena dicintai. Kalau cowok itu bilang hubungannya “rumit” atau “sebenarnya sudah selesai”, mungkin dia benar, dan itu urusannya untuk diselesaikan secara terbuka. Sampai saat itu, tetaplah jujur padanya dan pada dirimu sendiri, jangan lakukan apa pun yang harus kamu sembunyikan dari pacarnya, dan kalau kamu juga merasakannya, biarkan IF menyimpan jawabanmu.

Dia punya perasaan sama aku, tapi sudah punya pasangan

Sarannya tetap sama kalau yang menyatakan perasaan itu perempuan. Ada satu jebakan yang perlu disebut: dorongan untuk membuktikan bahwa kamu pilihan yang lebih baik. Kamu nggak perlu bersaing dengan pasangannya. Kalau dia nggak bahagia, bertindak atau nggak adalah urusannya, sesuai waktunya sendiri. Bersikap hangat itu oke, berharap juga. Jadi alasan, penyelamat, atau saingan adalah beban yang terlalu berat bagi siapa pun. Kalau kamu juga merasakannya, IF membuatmu bisa mengatakannya tanpa bersaing dengan siapa pun: IF itu menunggu, tersegel, sampai kalian berdua single.

Pria beristri bilang cinta sama kamu (atau wanita bersuami)

Pernikahan membuat taruhannya lebih besar: rumah bersama, sering kali anak-anak, kadang puluhan tahun kebersamaan. Bisa juga muncul kata-kata berat tentang pernikahan itu — “sudah lama selesai”, “kami bertahan cuma demi anak-anak”, “kami sebenarnya sudah pisah rumah”. Bisa jadi itu benar, dan apa yang terjadi pada pernikahan itu adalah keputusan mereka, diambil secara terbuka. Sampai saat itu, “aku cinta kamu” atau “aku punya perasaan sama kamu” adalah perasaan, bukan rencana. IF membuatmu bisa menjawab dengan jujur tanpa meminta apa pun dari hidup yang sudah mereka bangun: nggak ada percakapan yang bisa dimulai di IF selama salah satu dari kalian masih punya pasangan, dan IF tetap tersegel sampai kalian berdua single. Kalau kamu sudah telanjur jatuh cinta, jatuh cinta pada pria atau wanita yang sudah menikah punya panduannya sendiri.

Pacar temanku mendekatiku: haruskah aku kasih tahu dia?

Kadang kamu sama sekali nggak punya perasaan, yang ada cuma masalah. Pacar temanmu mengirimimu pesan saat temanmu nggak ada, atau terang-terangan bilang dia suka kamu. Kamu merasa nggak nyaman, lalu merasa bersalah, seolah-olah kamu penyebabnya. Bukan kamu penyebabnya.

Pertama, hentikan dia secara langsung, jelas dan tegas: “Itu nggak oke. Aku temannya, dan aku nggak tertarik.” Simpan pesan-pesannya kalau ada. Lalu putuskan soal temanmu. Nggak ada aturan yang cocok untuk semua pertemanan, tapi pertanyaan-pertanyaan ini membantu:

  • Apakah itu benar-benar jelas? Satu komentar yang ambigu berbeda dengan pesan yang bilang dia suka kamu.
  • Apakah itu terjadi lebih dari sekali, atau berlanjut setelah kamu menolak?
  • Seberapa dekat kalian? Sahabat biasanya ingin tahu. Teman yang belum lama kenal mungkin menganggapnya serangan.
  • Kalau posisinya dibalik, apakah kamu ingin tahu?

Kalau kamu memberitahunya, mulailah dengan fakta dan simpan komentarmu: apa yang dia katakan, kapan, dan bagaimana kamu menjawab. Tunjukkan pesannya kalau kamu punya, dan biarkan temanmu sendiri yang menilai artinya. Dia mungkin marah padamu dulu sebelum marah pada pacarnya; itu biasanya berlalu. Yang ingin kamu hindari adalah dia baru tahu berbulan-bulan kemudian bahwa kamu sudah tahu sejak awal.

Kami berciuman, dan dia punya pasangan. Sekarang gimana?

Kalau kamu sudah telanjur berciuman dengan seseorang yang punya pacar, suami, atau istri — setelah pesta, di momen yang kebablasan lebih jauh dari yang kalian berdua maksud — bersikaplah lembut pada dirimu sendiri, dan bersikaplah jelas. Ciuman bukan hubungan, dan nggak harus berubah jadi hubungan rahasia.

  • Katakan sekali saja bahwa itu nggak boleh terjadi lagi selama dia masih punya pasangan, dan sungguh-sungguhlah: ciuman di dalam hubungan orang lain itu sudah termasuk selingkuh, dan selingkuh itu salah. Obrolan panjang soal apa artinya justru jalan yang membuat satu ciuman jadi dua.
  • Beri jeda sebelum kalian bertemu berdua saja, bahkan kalau cuma untuk “meluruskan semuanya”. Waktu akan meluruskannya sendiri.
  • Jangan setuju merahasiakannya demi dia. Bohong itu salah, dan yang pertama-tama berhak menceritakannya adalah dia, karena dialah yang punya pasangan. Kalau pasangannya adalah temanmu, kamu bisa memutuskan bahwa temanmu juga berhak mendengarnya darimu; kalau begitu, katakan dengan lugas, dan jangan pernah sebagai cara memaksa mereka putus.
  • Jaga rasa bersalahmu tetap proporsional. Kamu membuat kesalahan dalam satu momen. Dia membuat pilihan saat terikat komitmen. Keduanya nyata, dan nggak satu pun harus menentukan siapa dirimu.
  • Kalau perasaan di balik ciuman itu nyata, beri perasaan itu tempat yang jujur: sebuah IF, tersegel sampai kalian berdua single — sebelum itu, nggak ada percakapan yang bisa dimulai di IF.

Kalau dia terus mengejar setelah kamu menolak

Pengakuan yang nggak kamu inginkan itu nggak nyaman. Terus dikejar padahal sudah kamu tolak itu lain cerita. Kalau orang yang punya pasangan terus mengirim pesan setelah penolakan yang jelas, atau muncul di tempat kamu berada, itu bukan romantis, dan cara menghadapi orang yang nggak mau menerima penolakan membahas langkah selanjutnya: simpan catatan, blokir dia di mana pun bisa, dan ceritakan ke orang yang kamu percaya.

Di tempat kerja, ini lebih dari sekadar canggung. Kalau orang itu rekan kerja, apalagi atasanmu, pendekatan yang nggak diinginkan yang terus berlanjut setelah kamu menolak adalah urusan tempat kerja, bukan sesuatu yang harus kamu tanggung diam-diam. Catat apa yang dikatakan dan dilakukan beserta tanggalnya, lalu bawa ke HR atau manajer yang kamu percaya.

Di sinilah IF berperan

Pengakuan seperti ini meninggalkanmu dengan perasaan yang nggak punya tempat jujur untuk disimpan. Bilang “aku juga”, kamu berisiko jadi rahasia; diam saja, perasaan itu terus berputar di kepala. IF dibuat persis untuk ini: aplikasi kencan untuk semua orang, single atau sudah punya pasangan, tempat kamu bisa mengungkapkan perasaanmu kapan pun waktunya.

Nggak ada Like, match, atau chat di IF selama salah satu dari kalian masih punya pasangan. Yang bisa kamu kirim adalah IF: pesan pribadi yang tersegel, maksimal 250 karakter, yang baru terbuka saat kalian berdua sudah single. Tersegel, bukan rahasia: nggak ada yang perlu disembunyikan atau dibohongi. Kalau kamu single dan dia jadi single, kamu punya 24 jam buat setuju membukanya; setelah terbuka, dia akan melihat siapa kamu dan apa yang kamu tulis, dan kalau dia menerimanya, chat pun terbuka. Dan kalau kamu sendiri yang punya pasangan, kamu tetap bisa mengirimnya: IF itu cuma menunggu sampai kalian berdua single.

Ini juga berlaku sebaliknya. Punya IF saat sedang punya pasangan bukan selingkuh, karena nggak ada yang terbuka sampai kalian berdua single. Jadi kalau dia sungguh-sungguh, dia bisa mengirimimu IF alih-alih pesan larut malam. IF-nya akan terbuka saat dia sendiri mengubah statusnya jadi single, selama kamu juga single saat itu, dan kamu yang memilih mau menerima atau nggak. Apa artinya kalau seseorang mengirimimu IF menjelaskan apa yang akan kamu lihat.

Kalau dia ada di IF, dia mungkin diberi tahu bahwa ada IF yang menunggunya, tapi nggak pernah siapa pengirimnya atau apa isinya — walau setelah obrolan seperti kalian, dia mungkin bisa menebak, dan karena dia yang bicara duluan, itu mungkin bukan hal buruk. Kalau dia belum ada di IF, IF yang dikirim ke alamat email yang dia berikan padamu akan memicu satu email undangan singkat; IF ke nomor telepon atau akun Instagram nggak mengirim apa pun dan cuma menunggu. Dengan tahu semua itu, pilihan ada di tanganmu.

IF pertamamu gratis. Dia cukup berani untuk mengatakannya; IF memungkinkan kamu sama beraninya, tanpa meminta apa pun darinya hari ini. Setelah itu, IF yang menunggu sementara kamu menjalani hidupmu, dan kalau suatu hari waktunya pas, IF bisa membawa kalian berdua ke tempat yang memang seharusnya sejak awal.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Kenapa orang yang sudah punya pasangan bilang suka sama aku?

Biasanya karena perasaan itu makin sulit dipendam, dan mengatakannya terasa lebih jujur daripada menyembunyikannya. Kadang hubungannya sedang bermasalah; kadang dia cuma ingin kamu tahu. Apa pun alasannya, nggak ada yang berubah dalam hubungannya sampai dia sendiri yang mengubahnya.

Haruskah aku menunggu dia putus dengan pacarnya?

Kalau dia terasa seperti orang yang tepat di waktu yang salah, menunggu itu sah. Yang penting adalah bagaimana kamu menunggu. Tuangkan jawabanmu ke dalam IF supaya sudah terucap dan tersegel, lalu buat rencana yang nggak bergantung pada rencananya: teman-temanmu, pekerjaanmu, liburan yang memang sudah kamu rencanakan. Kalau dia putus, biarlah itu karena alasannya sendiri; kamu sudah mengatakannya, lewat IF yang menunggu waktu yang tepat.

Apakah pria beristri serius saat bilang cinta sama kamu?

Bisa jadi dia memang serius; perasaan itu nyata meski waktunya nggak tepat. Tapi apa yang dia rasakan dan apa yang dia lakukan dengan pernikahannya adalah dua hal yang berbeda, dan yang kedua itu keputusannya. Jauhkan dirimu dari apa pun yang rahasia, dan kalau kamu juga merasakannya, IF membuatmu bisa mengatakannya dengan jujur, tersegel sampai kalian berdua single.

Haruskah aku bilang ke pacarnya bahwa dia bilang suka sama aku?

Kalau dia temanmu dan kamu nggak merasakan hal yang sama, sering kali iya: ceritakan faktanya sekali dan biarkan dia yang menilai artinya. Kalau kamu juga merasakannya, yang pertama-tama berhak menceritakannya adalah cowok itu; jangan simpan rahasia, jujurlah padanya, dan biarkan IF menyimpan jawabanmu sampai kalian berdua single.

Kalau kamu memberitahunya, berpeganglah pada apa yang dia katakan dan kapan, tunjukkan pesannya kalau ada, dan serahkan penilaian padanya. Dan kalau cowok itu memintamu merahasiakannya berdua saja, kamu nggak harus setuju: nggak jadi rahasia siapa pun juga berlaku untuk hal ini.

Apakah salahku kalau orang yang sudah punya pasangan punya perasaan sama aku?

Bukan. Kamu nggak bisa mengendalikan perasaan orang lain, dan bersikap hangat atau ramah bukanlah undangan. Juga nggak salah kalau kamu merasakan sesuatu sebagai balasannya. Kamu cuma bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan setelah tahu, dan sebagian besarnya cukup dengan kejujuran.

Dia sudah mengatakan bagiannya. Kalau kamu juga merasakannya, katakan bagianmu lewat IF. Orang yang tepat, waktu yang salah? Tunggu dia di IF.