Haruskah Kamu Menunggu Orang yang Sudah Punya Pasangan?

Entri No. 107 ·

Larut di suatu malam yang sejuk sepulang jalan-jalan, empat sahabat berusia awal dua puluhan dengan baju santai untuk keluar malam — kaus polos, kemeja oversize, jaket bomber, jeans — menunggu bersama di bawah halte berdinding kaca yang polos dan diterangi cahaya lembut, tanpa poster atau papan apa pun; mereka berbagi kentang goreng dari wadah kertas sambil tertawa mendengar sebuah cerita. Seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan jaket pendek, jeans lebar, dan sneakers, menyandang tote bag polos berwarna merah muda tua di bahunya, tersenyum sendiri sambil menatap ke ujung jalan yang basah dan berkilau, menanti bus.

Oleh Tim IF

Ya, kalau dia terasa seperti orang yang tepat di waktu yang salah. Menunggu orang yang sudah punya pasangan bukan hal bodoh; itu harapan, bukan kelemahan. Yang penting adalah caramu menunggu. Versi yang menyakitkan membuat hidupmu berhenti dan menghabiskan hari-hari untuk mencari tanda-tanda bahwa hubungannya akan berakhir. Versi yang sehat adalah mengungkapkan perasaanmu sekali saja, dengan cara yang tidak menuntut apa pun darinya dan tidak membebani hubungannya, lalu tetap menjalani hidupmu. Apa pun yang terjadi dalam hidupnya, hidupmu sudah terus melangkah.

Itulah gagasan di balik IF, aplikasi kencan yang kami buat untuk semua orang, baik yang lajang maupun yang sedang menjalin hubungan. IF adalah pesan pribadi yang tersegel, yang kamu kirim sekarang dan hanya akan terbuka kalau suatu hari kalian berdua sama-sama lajang. Tidak ada percakapan yang bisa dimulai di IF selama salah satu dari kalian masih punya pasangan, jadi IF tidak mengganggu apa pun yang sudah dia bangun. Dan kalau suatu saat waktunya pas, kamu sudah ada di sana.

Kalau kamu menanyakan hal ini, kemungkinan kamu sudah sedikit menunggu. Teman kuliah yang sudah bersama orang yang sama sejak tahun kedua. Rekan kerja yang berlama-lama di mejamu jam enam sore, lalu pulang ke orang lain. Seseorang yang mengirimimu voice note saat jalan pulang, lalu mengunggah foto anniversary di hari Minggu. Kamu bukan orang jahat hanya karena berharap waktunya berbeda. Perasaan yang melintasi batas hubungan itu wajar dan jujur; pertanyaannya hanya apa yang akan kamu lakukan dengan perasaan itu.

Di bawah ini: kenapa menunggu terasa benar, berapa lama sebaiknya menunggu, bagaimana menyikapi “aku akan meninggalkannya”, dan cara menunggu dengan baik. Untuk gambaran yang lebih luas, mulailah dari orang yang tepat, waktu yang salah.

Kenapa menunggu terasa seperti hal yang benar?

Karena sering kali itu memang cinta. Cerita-cerita selalu berpihak pada orang yang menunggu, si sahabat setia yang selama ini selalu ada, dan kadang hidup juga begitu: orang sering bertemu di waktu yang salah, dan sebagian akhirnya menemukan jalan untuk kembali bersama.

Menunggu orang yang sudah punya pasangan punya satu ganjalan tambahan: kamu tidak bisa tahu apakah hubungannya akan berakhir, dan bukan tugasmu untuk mengakhirinya. Kalau kamu menyikapinya dengan ringan, tidak masalah. Kamu bisa mendoakan yang terbaik untuknya, membiarkan pintu tetap terbuka, dan ikut bahagia untuknya apa pun yang terjadi. Kalau kamu menggenggamnya terlalu erat, penantian itu bisa berubah jadi mengawasi hubungannya alih-alih menjalani hidupmu sendiri, dan hanya bagian itulah yang perlu kamu jaga.

Menunggu juga bisa terasa makin berat tanpa kamu sadari. Psikolog menyebut salah satu penyebabnya efek biaya hangus (sunk cost): makin banyak yang sudah kamu curahkan, makin sulit melihat keadaanmu dengan jernih. Penyebab lainnya adalah apa yang oleh psikolog perilaku disebut penguatan intermiten: imbalan yang datang tak terduga — pesan yang hangat, satu obrolan larut malam yang terasa seperti pintu yang mulai terbuka — membuat perasaan tetap menyala jauh lebih lama daripada imbalan yang datang teratur.

Selain itu, penantian semacam ini jarang mendapat sinyal yang jelas ke arah mana pun. Dalam sebuah studi klasik tentang cinta bertepuk sebelah tangan, orang-orang yang perasaannya tidak berbalas sering merasa penolakan itu tidak pernah disampaikan dengan jelas. Semua ini tidak membuatmu lemah. Justru karena itu, ada baiknya kamu memberi bentuk sendiri pada penantianmu: tuangkan ke dalam kata-kata sekali saja, dalam sebuah IF, dan biarkan IF yang menyimpan pertanyaan itu selagi kamu menjalani hidup.

Berapa lama kamu harus menunggu seseorang jadi lajang?

Tidak ada angka yang tepat, karena berakhirnya hubungan orang lain bukan tanggal di kalender, dan bukan kamu yang berhak menjadwalkannya. Jadi pertanyaan yang lebih berguna bukan berapa lama, melainkan penantian seperti apa yang kamu maksud.

Menunggu dengan hidup yang terhenti

Ini versi yang menyakitkan: tidak berkencan dengan siapa pun, mengosongkan malam-malammu kalau-kalau dia mengirim pesan, terus mengecek apakah ada yang berubah. Kamu menyerahkan bentuk hidupmu pada keputusan yang menjadi milik dua orang lain. Perasaanmu nyata, dan perasaan itu layak mendapat lebih dari hidup yang terhenti.

Menunggu sambil tetap hidup

Kamu peduli pada seseorang, mendoakan yang terbaik untuknya, dan membiarkan pintu tetap terbuka sambil terus menjalani hidupmu: bertemu teman, membuat rencana yang tidak bergantung padanya, berkencan dengan orang lain kalau kamu mau. Penantian seperti ini tidak butuh batas waktu. Untuk versi inilah IF dibuat: kamu mengatakannya sekali, kata-katamu menunggu dalam pesan yang tersegel, dan kamu tidak perlu menjaga perasaan itu tetap hidup dengan terus mengecek.

Menunggu dia putus dengan pacarnya

Siapa pun tokoh dalam ceritamu, inilah versi yang paling sering dimaksud orang. Dia sudah bilang padamu bahwa dia tidak bahagia. Atau dia bilang hubungannya sudah berbulan-bulan tinggal status. Dia akan mengakhirinya — setelah liburan, setelah urusan kantor agak reda. Sementara itu, kalian lebih dekat daripada teman pada umumnya, dan kamu menunggu.

Bisa jadi dia sungguh-sungguh dengan setiap kata-katanya. Mengakhiri hubungan memang bisa sangat sulit — rumah bersama, anak, uang — dan itu keputusannya untuk diambil pada waktunya sendiri. Yang tidak dibutuhkan adalah kamu yang terus siaga menunggu. Ingin pergi dan benar-benar pergi adalah dua hal yang berbeda, dan kamu akan merasa lebih mantap kalau menilai dari apa yang terjadi, bukan dari apa yang dijanjikan. “Aku pindah bulan Maret, dan aku sudah bilang ke dia” adalah fakta tentang hidupnya. “Rumit, kasih aku waktu saja” adalah harapan, begitu juga jadwal yang terus bergeser setiap kali kamu bertanya. Genggam harapan itu dengan lembut, dan bagaimanapun juga, tetaplah menggerakkan hidupmu sendiri.

Ada satu batas yang perlu disebut terang-terangan. Kalau apa yang terjadi di antara kalian disembunyikan dari pasangannya, itu bukan lagi menunggu: itu hubungan rahasia, dan rahasia seperti itu menyakiti semua orang yang terlibat di dalamnya, termasuk kamu. Selingkuh itu salah, begitu juga berbohong. Semua yang masih di dalam batas itu — perasaan, persahabatan, harapan — jujur, dan milikmu sepenuhnya.

Mungkin kamu ingin bilang padanya bahwa kamu akan ada untuknya kalau suatu saat dia lajang. Boleh saja, tapi membuka diri seperti itu ada risikonya: dia jadi terjepit di tengah hubungan yang masih dia jalani, dan sesuatu di antara kalian langsung berubah begitu kata-kata itu terucap. Mungkin lebih baik kamu mengirim IF, supaya kalau suatu saat waktunya pas, kamu ada di sana untuk menunjukkan betapa kamu selalu menyukainya. Tidak ada percakapan yang bisa dimulai di IF selama salah satu dari kalian masih punya pasangan, jadi IF tidak pernah menjadi jalan untuk makin dekat sementara itu.

Kalau dia sudah mengaku punya perasaan padamu, apa yang harus dilakukan saat orang yang sudah punya pasangan bilang suka padamu membahas pilihan-pilihanmu secara rinci. Kalau orang itu sudah menikah, pertanyaannya jadi lain, dan panduan yang perlu kamu baca adalah jatuh cinta pada pria atau wanita yang sudah menikah.

Biarkan hubungan mereka berjalan dengan sendirinya

Ini bisa dimulai begitu pelan sampai rasanya bukan apa-apa: terlalu cepat mengiyakan saat dia mengeluh soal pasangannya, mengatur waktu pengakuan pas di minggu yang buruk, menjadikan dirimu pilihan yang paling gampang.

Semua itu tidak perlu. Hubungan yang dimulai karena kamu ikut membantu mengakhiri hubungan lain akan berawal dengan pertanyaan yang tak pernah benar-benar bisa kalian kesampingkan. Kalau hubungan mereka berakhir, biarlah itu terjadi karena alasannya sendiri, diputuskan oleh dua orang yang menjalaninya — dan setelah itu kalian bisa memulai tanpa ada yang perlu dijelaskan.

Waspadai juga tekanan yang menyamar sebagai kejujuran. Bilang “aku butuh sedikit ruang” adalah batasan. Bilang “tinggalkan dia atau kehilangan aku” adalah senjata untuk menekan, begitu juga pengakuan yang sengaja dirancang untuk menanam keraguan. Cara jujur untuk bertindak atas perasaanmu adalah cara yang tetap jujur seandainya hubungan mereka bertahan selamanya. IF yang tersegel persis seperti itu: tidak meminta apa pun, tidak mendorong apa pun, dan hanya menunggu.

Perhatikan hidupmu sendiri, bukan hubungan mereka

Godaan untuk mencari petunjuk di hubungan mereka memang besar: foto berdua yang makin jarang, pasangan yang tak lagi muncul di story-nya, teman bersama yang menyiratkan bahwa hubungan mereka sedang goyah. Mencari tanda-tanda bahwa hubungan itu akan berakhir terasa seperti mengumpulkan informasi. Kenyataannya, itu lebih sering membuatmu jalan di tempat.

Ada tiga alasan bagus untuk berhenti. Itu kehidupan pribadinya, bukan untuk kamu baca-baca. Itu membuat lukamu tetap basah, karena setiap kali mengecek berarti satu dosis kecil harapan atau keputusasaan; dalam sebuah studi tentang orang-orang yang terus mengecek Facebook mantan pasangannya, makin sering mengecek berkaitan dengan makin banyak tekanan batin dan kerinduan, serta makin sedikit pertumbuhan pribadi. Dan biasanya kesimpulannya keliru: pasangan yang jarang mengunggah sesuatu mungkin justru lebih bahagia di dunia nyata.

Kalau kamu sadar tidak bisa berhenti mengecek — profilnya, profil pasangannya, status hubungannya di media sosial — itu bukan cacat karakter, tapi itu sebuah sinyal. Kerinduan yang intens dan terus berputar, yang oleh psikolog disebut limerensi, tumbuh subur justru dari ketidakpastian seperti ini. Bisukan, berhenti ikuti, atau arsipkan apa pun yang perlu. IF adalah kebalikan dari mengecek: begitu terkirim, IF yang menunggu supaya kamu tidak perlu. Dan kalau pikiran itu mulai menguasai hari-hari atau tidurmu, bicaralah dengan seseorang; kamu tidak harus memikulnya sendirian.

Haruskah aku menunggunya atau move on?

Hanya kamu yang bisa memutuskan, dan keduanya jawaban yang jujur. Beberapa pertanyaan ini biasanya membuat semuanya lebih jelas daripada yang terasa pada jam dua pagi:

  • Sudahkah kamu mengungkapkan perasaanmu, atau perasaan itu masih berputar-putar di kepala tanpa pernah terucap?
  • Adakah perubahan nyata yang bisa kamu tunjuk — sebuah obrolan, tanggal yang pasti, pindah rumah — atau hanya suasana hati dan sinyal-sinyal samar?
  • Kalau bertahun-tahun tidak ada yang berubah, apakah hidupmu masih akan terasa seperti milikmu sendiri?
  • Apakah kamu berhenti berkencan, atau menolak orang-orang yang tertarik padamu, kalau-kalau dia jadi lajang?
  • Apakah kamu sekarang lebih menjadi dirimu sendiri dibanding setahun lalu, atau justru kurang?

Kalau jawabanmu membuatmu khawatir, solusinya belum tentu menyerah padanya. Solusinya adalah mengubah caramu menunggu: tuliskan sekali saja, dalam sebuah IF, lalu kembalikan malam-malammu untuk hidupmu sendiri. Dan kalau kamu lebih memilih move on, itu juga sah. Move on dan mengungkapkannya tidak saling bertentangan: IF memungkinkan perasaan itu terucap lalu disimpan, menunggu hari saat kalian berdua lajang, kecuali dia memilih untuk menghapusnya. Cara melupakan seseorang yang tak bisa bersamamu adalah panduan yang lebih panjang dan lembut tentang melepaskan.

Saat menunggu seseorang membuat hidupmu terhenti

Menunggu itu sendiri bukan masalah. Tapi kalau kamu mengenali dirimu dalam salah satu poin ini, caramu menunggu membuatmu membayar lebih mahal dari seharusnya:

  • Sudah lebih dari satu kali liburan kamu menunda rencana, perjalanan, atau kencan dengan alasan “tunggu sampai liburan nanti”.
  • Suasana hatimu naik turun tergantung apakah dia sudah membalas.
  • Kamu sudah membayangkan percakapan saat dia akhirnya memilihmu lebih sering daripada yang bisa kamu hitung.
  • Kamu membandingkan setiap orang baru dengannya, dan setiap orang baru selalu kalah.
  • Teman-temanmu sudah berhenti menanyakannya, atau malah mulai khawatir.

Satu hal yang berbeda: kalau dia sudah dengan jelas bilang tidak, atau meminta ruang, itulah jawabanmu. Berhentilah di situ, dan beri dia ruang yang dia minta — secara langsung, lewat pesan, maupun di IF.

Menggerakkan hidupmu lagi bukan soal satu keputusan besar, melainkan serangkaian keputusan kecil yang diulang-ulang:

  1. Putuskan, dengan kata-kata, bahwa hidupmu tidak lagi tertahan. Katakan pada dirimu sendiri, atau pada teman yang akan menagih janjimu.
  2. Kalau dia belum bilang tidak atau meminta ruang, dan kamu ingin dia tahu perasaanmu, katakan sekali saja. Mengatakannya langsung itu berani sekaligus berisiko; IF yang tersegel menyampaikan hal yang sama tanpa meminta apa pun darinya hari ini.
  3. Kalau dia memintamu menunggu, katakan dengan lembut: “Aku peduli padamu, dan aku akan tetap menjalani hidupku,” lalu biarkan IF menyimpan sisanya sampai kalian berdua lajang.
  4. Beri sedikit jarak: kurangi obrolan larut malam dan janji berdua saja, dan bisukan notifikasinya kalau perlu.
  5. Kembalikan waktumu untuk teman, proyek, dan rencana yang sempat kamu tunda, dan mulailah berkencan lagi kapan pun kamu mau.
  6. Bersiaplah menghadapi gelombang. Perasaan yang tiba-tiba membuncah bukan kegagalan. Itu hanya sebuah gelombang.

Di sinilah IF berperan

Ada cara menunggu yang nyaris tidak membuatmu kehilangan apa-apa: katakan yang sebenarnya sekali saja, lepaskan, dan jalani hidupmu. Mengatakannya langsung di depannya membebani hubungannya; tidak mengatakan apa-apa bisa membuatnya berputar di kepalamu selama bertahun-tahun. IF ada di tengah-tengahnya. Jalan tengah itulah alasan IF ada: lajang atau sedang menjalin hubungan, siapa pun bisa mengungkapkan perasaannya, bagaimanapun waktunya.

Setiap IF memuat hingga 250 karakter, tetap tersegel, dan hanya terbuka saat kalian berdua lajang. Tidak pernah ada percakapan yang dimulai di IF selama salah satu dari kalian masih punya pasangan, jadi IF tidak pernah memintanya memilih. Dia mungkin diberi tahu bahwa ada IF yang menunggunya, tapi tidak pernah siapa pengirimnya atau apa isinya, kecuali IF itu dibuka — meski orang tetap bisa menebak dari konteks. Kalau dia belum ada di IF, IF yang dikirim ke alamat email yang dia berikan padamu akan memicu satu email undangan singkat, tanpa namamu atau kata-katamu; IF yang dikirim ke nomor telepon atau akun Instagram yang dia bagikan padamu tidak mengirim apa pun sama sekali, dan hanya menunggu kalau-kalau dia bergabung.

Ini cara untuk mengatakan sesuatu, bukan untuk berjaga-jaga, jadi kamu bisa berhenti mengecek: status hubungan diisi sendiri oleh setiap orang, dan satu-satunya saat IF meminta sesuatu darimu adalah ketika IF-mu sendiri siap dibuka. Kalau dia jadi lajang saat kamu juga lajang, kamu punya waktu 24 jam untuk membukanya. Buka, dan dia akan melihat siapa kamu dan apa yang kamu tulis, lalu bisa menerima atau menolak pada waktunya sendiri; kalau dia menerima, sebuah chat akan terbuka dengan IF-mu sebagai pesan pertamanya. Pesan yang sudah menunggu sejak lama menyampaikan sesuatu yang tak akan pernah bisa disampaikan pesan yang dikirim di hari itu juga. Berapa lama menunggu setelah dia putus sebelum mengajaknya kencan membahas momen itu, dan cara agar kamu tidak sekadar jadi pelarian.

Kalau kamu sendiri sedang menjalin hubungan, kamu tetap bisa mengirim IF: IF itu menunggu sampai kalian berdua lajang, dan kalau dia sudah lajang saat kamu mengubah statusmu jadi lajang, IF langsung terbuka saat itu juga, tanpa pilihan 24 jam. Cara kerja IF membahas semua kemungkinannya.

IF pertamamu gratis. Butuh sedikit keberanian untuk menulisnya, dan memang di situlah intinya: satu pesan jujur, ditulis saat waktunya salah, yang menunggu hari saat kalian berdua lajang supaya kamu bisa tetap menjalani hidupmu. Kalau suatu saat waktunya pas, pesan itu bisa membawamu ke tempat yang memang sudah ditakdirkan untukmu sejak awal.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah salah menunggu orang yang sudah punya pasangan?

Tidak. Punya perasaan pada orang yang sudah ada yang punya bukanlah hal yang salah, begitu juga berharap suatu hari waktunya akan pas. Itu baru jadi masalah kalau penantianmu berubah jadi membantu mengakhiri hubungan mereka, berbohong kepada siapa pun, atau membuat hidupmu terhenti. Ungkapkan lewat IF kalau kamu mau, lalu tetap jalani hidupmu.

Apakah dia akan meninggalkan pacarnya demi aku?

Kamu tidak bisa tahu, dan tidak ada yang bisa menjanjikannya, tapi itu bisa saja terjadi. Orang biasanya pergi karena alasan di dalam hubungannya, bukan karena ada orang luar yang sudah menunggu cukup lama. Kalau dia bilang akan putus, carilah tindakan yang disertai tanggal, dan anggap janji itu sebagai harapannya, bukan rencanamu. Dengan IF, kamu bisa ada di sana kalau hal itu suatu saat terjadi, siap menunjukkan bahwa perasaanmu sudah ada sejak awal; tidak ada percakapan yang bisa dimulai di IF selama dia masih bersama seseorang, jadi IF tidak memintanya memilih apa pun hari ini.

Bisakah kamu menunggu seseorang sambil berkencan dengan orang lain?

Bisa, dan justru itulah versi yang sehat: membawa sebuah perasaan, bukan menahan hidupmu di tempat. Satu-satunya syarat adalah jujur pada orang-orang yang kamu kencani. Kalau kamu sadar hanya sekadar formalitas, lebih baik berhenti dulu sejenak daripada membiarkan orang baru yang menanggung akibatnya.

Bagaimana kalau dia jadi lajang setelah aku move on?

Kalau begitu, kamu bertemu dengannya sebagai seseorang dengan hidup yang utuh, bukan seseorang yang selama ini diam di tempat — dan itu titik awal yang jauh lebih baik. Kalau kamu lajang dan IF-mu masih menunggu, kamu akan ditanya apakah ingin membukanya, dengan waktu 24 jam untuk memutuskan, dan dia bisa menjawab pada waktunya sendiri; pesan yang sudah menunggu sejak lama bisa jadi cara paling lembut untuk memulai lagi.

Orang yang tepat, waktu yang salah? Tunggu dia di IF: katakan sekali, lalu pergilah menjalani hidup, dan biarkan IF-mu yang menunggu untukmu.