Haruskah Aku Putus karena Suka Orang Lain?
Entri No. 090 ·

Oleh Tim IF
Haruskah kamu putus karena kamu suka orang lain? Kalau cuma karena itu, tidak. Perasaan baru saja bukan alasan untuk mengakhiri hubungan — tapi bisa jadi momen kamu sadar bahwa hubunganmu sebenarnya tidak tepat. Jalan keluarnya adalah memisahkan dua keputusan yang terasa seperti satu. Pertama, apakah kamu ingin tetap bersama pasanganmu, dan kamu hanya bisa menjawabnya seolah-olah orang itu tidak ada. Kedua, apakah kamu ingin bersama orang baru itu, dan kamu tidak bisa tahu jawabannya dengan jujur sampai kalian berdua single. Kalau hubunganmu memang sudah selesai, akhiri dengan baik, demi hubungan itu sendiri. Kalau belum, perasaan itu tetap boleh ada: simpan dengan jujur, atau ungkapkan sekali lewat IF yang menunggu sampai waktunya pas.
Kalau kamu terjaga semalaman menghitung-hitung semua ini, kamu bukan orang jahat, dan kamu jelas bukan yang pertama. Mungkin dia rekan kerja yang bikin hari Senin terasa lebih ringan, atau teman lama yang pesannya kamu baca berulang-ulang di bus. Perasaan baru datang tanpa sejarah, tanpa cucian piring, dan tanpa ribut soal mudik Lebaran ke orang tua siapa, lalu hadir di tengah hubungan yang punya semua itu. Wajar kalau perbandingannya terasa berat sebelah. Memang begitu.
Menyukai orang lain bukan hal yang salah; batasnya cuma dua: selingkuh dan berbohong. IF, aplikasi kencan yang kami buat untuk perasaan seperti ini, memegang batas yang sama: tidak ada percakapan yang bisa dimulai di IF selama salah satu dari kalian masih berpasangan, tapi kamu tetap bisa mengungkapkan perasaanmu. Untuk memahami perasaannya sendiri, mulailah dari punya crush saat sedang menjalin hubungan.
Dua keputusan, bukan satu
Sebagian besar saran, dan sebagian besar pikiran larut malam, mencampur dua pilihan terpisah menjadi satu: tetap bersama pasangan, atau bersama dia. Rasanya seperti persimpangan jalan. Padahal bukan.
- Keputusan pertama: apakah hubungan ini tepat untukmu? Kamu bisa menjawabnya sekarang, berdasarkan bukti berbulan-bulan atau bertahun-tahun — bagaimana kalian bertengkar lalu berbaikan, apakah kalian masih menginginkan hidup yang sama, apakah bersama pasanganmu kamu merasa makin menjadi dirimu sendiri atau justru kurang.
- Keputusan kedua: mungkinkah orang lain itu tepat untukmu? Yang ini belum bisa kamu jawab. Kamu mengenalnya dalam satu situasi saja, saat dia menunjukkan sisi terbaiknya, tanpa ada yang dipertaruhkan. Dia belum pernah punya kesempatan untuk menolak, atau mengecewakanmu di hari Selasa yang biasa saja. Dan kamu tidak bisa mencari tahu dengan jujur selama kamu masih bersama orang lain.
Kalau dilihat seperti itu, urutannya jelas: keputusan soal hubunganmu dulu, ditimbang tersendiri, dan yang satunya nanti, setelah kalian berdua single. Saat keduanya melebur jadi satu, putus berubah jadi semacam pindah tangan: kamu pergi karena sepertinya ada orang lain yang menunggu, lalu membebaninya dengan tugas membenarkan semua yang terjadi sesudahnya. Itu terlalu banyak untuk diminta dari orang yang bahkan belum pernah kamu ajak kencan. Menunda keputusan kedua bukan berarti menyangkalnya: kalau kamu ingin dia tahu suatu hari nanti, IF bisa mengatakannya sekarang dan menyimpannya tersegel sampai saat itu.
Satu-satunya tes yang penting
Cara paling jelas untuk memisahkan dua keputusan itu adalah eksperimen pikiran. Bayangkan orang yang kamu sukai pindah ke belahan dunia lain besok, tanpa kemungkinan masa depan apa pun. Apakah kamu masih ingin meninggalkan hubunganmu?
Kalau jawabannya ya, crush itu tidak pernah jadi alasannya; dia cuma cahaya yang memperlihatkan ruangan yang selama ini kamu hindari. Urus hubunganmu demi hubungan itu sendiri — perbaiki atau akhiri — dan jangan libatkan orang itu dalam pertimbanganmu. Kalau jawabannya tidak, perasaan itu bukan alasan untuk pergi. Perasaan itu tetap nyata, dan layak mendapat tempat yang jujur untuk beristirahat: kamu bisa mengungkapkannya sekali lewat IF, tersegel sampai kalian berdua single, lalu fokus memutuskan nasib hubunganmu.
Beberapa pertanyaan tambahan bisa memperjelas gambarannya:
- Bayangkan dia bilang padamu, dengan lembut tapi tegas, bahwa dia tidak merasakan hal yang sama. Apakah kamu masih ingin pergi?
- Kalau pasanganmu mengubah satu hal yang paling membuatmu tidak bahagia, apakah tarikan itu akan memudar?
- Apakah kamu sudah memberi tahu pasanganmu dengan jelas apa yang salah, dan memberinya kesempatan nyata untuk menanggapi?
- Apakah ini pertama kalinya, atau ada orang baru yang muncul setiap beberapa tahun?
Jawab pertanyaan-pertanyaan ini di hari kamu tidak bertemu orang itu. Perasaan paling riuh tepat setelah bertemu.
Masalahnya di hubungan atau di crush?
Inilah pertanyaan yang ada di baliknya, dan di sinilah “apakah aku cuma pasrah?” tinggal. Sebuah studi pada orang dewasa dalam hubungan eksklusif menemukan bahwa crush pada orang di luar hubungan itu umum. Crush itu hal biasa. Pasrah itu lain lagi: hubungan yang diam-diam sudah tidak kamu perjuangkan.
Tanda-tanda kamu cuma pasrah dalam hubungan
- Kamu bertahan terutama karena pergi terasa lebih sulit, bukan karena bertahan terasa benar.
- Kamu berhenti meminta apa yang kamu butuhkan, karena tidak lagi berharap ada yang berubah.
- Kamu akan merasa lega, bukan sedih, kalau pasanganmu yang mengakhirinya.
- Gambaranmu tentang lima tahun ke depan diam-diam tidak menyertakan pasanganmu.
- Kalian tidak sepakat soal hal besar — anak, uang, tempat tinggal — dan sudah berhenti membicarakannya.
Tanda-tanda ini lebih soal crush
- Secara umum kamu cukup bahagia sampai dia muncul.
- Bayanganmu tentang hidup bersamanya penuh warna soal perasaan, tapi kosong soal hal-hal praktis: seperti apa dia jam 7 pagi, di hari yang buruk, bersama keluargamu.
- Perbandingannya selalu mengadu sisi terburuk pasanganmu dengan sisi terbaik orang itu.
- Perasaan itu naik turun tergantung seberapa banyak perhatian yang dia berikan padamu.
- Kamu pernah merasakan hal yang persis sama sebelumnya, pada orang lain, dan perasaan itu berlalu.
Kebanyakan orang mengenali sedikit dari keduanya. Crush bisa sebagian besar berupa lamunan, tapi tetap menunjuk pada sesuatu yang nyata — perhatian, tawa, rasa ingin tahu — yang hilang di rumah. Crush tidak perlu memutuskan apa-apa. Tapi kebutuhan itu mungkin bisa.
Pasrah, atau sekadar fase tengah dari hubungan yang panjang?
Debar-debar awal dalam hubungan apa pun akan memudar, dan hilangnya tidak membuktikan apa-apa. Kompromi berarti memilih seseorang lalu menyesuaikan diri dengannya; pasrah berarti bertahan dengan seseorang yang sudah tidak lagi kamu pilih. Tesnya: dengan semua yang kamu ketahui sekarang, apakah kamu akan memilihnya lagi?
Sindrom rumput tetangga lebih hijau: apa itu, dan apa yang bukan
“Sindrom rumput tetangga lebih hijau” bukan diagnosis klinis, melainkan nama populer untuk pola yang sudah akrab: rasa gelisah bahwa orang yang tepat selalu sedikit di luar jangkauan, sehingga setiap hubungan terasa salah begitu mulai nyata. Biasanya bentuknya seperti ini:
- Hubungan-hubunganmu goyah di titik yang kurang lebih sama, saat kebaruan memudar dan kehidupan sehari-hari dimulai.
- Orang baru itu tampak sempurna, dengan cara yang tidak pernah kamu temukan pada siapa pun yang kamu kenal baik.
- Kamu paling yakin ingin pergi justru saat hidup sedang berat karena alasan lain: pekerjaan, uang, ulang tahun penting, pernikahan teman.
Masalahnya, rumput yang kamu jadikan pembanding itu belum pernah diinjak: kamu membandingkan tekstur nyata dari satu hubungan dengan cuplikan trailer hubungan lain. Kalau pola ini terdengar akrab, pergi tidak akan menyembuhkannya, dan membicarakannya dengan seseorang bisa membantumu melihat apa yang sebenarnya kamu cari.
Tapi tidak semuanya soal rumput tetangga. Kadang rumput tetangga tampak lebih hijau karena halamanmu sendiri sudah bertahun-tahun mengering. Keraguan ala rumput tetangga itu soal orang lain; ketidakcocokan yang nyata tetap ada meski orang itu sudah tidak ada.
Dalam segitiga cinta? Memilih antara dua orang
Perasaan pada dua orang sekaligus bisa terasa seperti harus memilih di antara mereka. Biasanya ini pilihan tentang satu hubungan: satu orang adalah hidup yang sudah kamu bangun, yang lain sebuah kemungkinan yang belum pernah diuji, dan keduanya tidak bisa ditimbang di timbangan yang sama. Yang paling penting adalah bagaimana kamu bersikap selama mencari jawabannya:
- Tetap jujur. Tidak ada pesan pribadi yang tidak ingin kamu perlihatkan, tidak ada waktu berdua yang diatur dengan mencuri-curi celah jadwal pasanganmu. Kalau batas sudah terlanjur dilewati, tanda-tanda perselingkuhan emosional akan membantumu melihat posisimu.
- Putuskan soal hubunganmu dulu, ditimbang tersendiri, dengan tes di atas.
- Jangan berjanji, dan jangan minta janji: keputusan yang diambil untuk menyenangkan orang lain jarang bertahan. Kalau kamu ingin dia tahu perasaanmu, IF bisa mengatakannya tanpa menjanjikan apa pun.
- Jangan jadikan pasanganmu jaring pengaman selagi kamu menjajaki peluang dengan orang lain. IF bukan seperti itu: IF tidak meminta apa pun darinya dan tidak membuka apa pun sampai kalian berdua single. Dalam cinta segitiga, pasanganmu sering kali satu-satunya orang yang tidak tahu gambaran utuhnya.
Kalau orang itu juga punya pasangan, ada empat orang yang terlibat, bukan tiga, dan alasan untuk membereskan hidupmu sendiri lebih dulu jadi makin kuat. IF tetap bisa dipakai saat kalian berdua sama-sama punya pasangan: IF tetap tersegel selama salah satu dari kalian masih bersama seseorang, jadi tidak meminta siapa pun dari kalian mengubah apa pun hari ini. Saat kalian berdua punya pasangan tapi saling menyimpan rasa ditulis khusus untuk situasi itu.
Meninggalkan hubunganmu demi orang lain: apa yang biasanya terjadi
Kadang pergi memang keputusan yang tepat, dan perasaan baru itu hanyalah dorongan yang kamu butuhkan. Meski begitu, ada satu temuan yang layak diketahui. Sebuah studi tentang hubungan yang dimulai saat salah satu pasangan masih bersama orang lain menemukan bahwa hubungan seperti itu berawal di pijakan yang lebih goyah, dengan komitmen dan kepuasan yang lebih rendah. Itu gambaran rata-rata, bukan tentang kamu, dan yang disorotnya adalah bagaimana sebuah hubungan dimulai, bukan dengan siapa: kalau yang lama diakhiri lebih dulu, dengan baik, yang baru bisa dimulai di pijakannya sendiri.
Saat satu hubungan langsung bersambung ke hubungan berikutnya, kalian berdua mungkin bertanya-tanya apakah kalian benar-benar saling memilih atau cuma lari ke pintu terdekat. Mengakhiri dulu juga urutan yang menjadi dasar IF: tidak ada yang terbuka sampai kalian berdua single.
Kenapa orang menyesal pergi demi orang lain
Kalau orang menyesal, penyesalannya biasanya bukan soal meninggalkan hubungan yang tidak bahagia, melainkan soal bagaimana mereka pergi, dan kenapa:
- Hubungan baru itu dibangun di tengah krisis, dan kewalahan begitu hidup kembali biasa saja.
- Mereka tidak pernah berduka atas hubungan yang lama, jadi dukanya muncul belakangan, di tengah hubungan yang baru.
- Mereka kehilangan lebih dari pasangan: teman bersama, rumah, kehidupan sehari-hari dengan anak atau keluarga.
- Orang yang membuat mereka pergi ternyata juga cuma manusia, bukan jawaban.
Pelajarannya bukan “jangan pernah pergi”. Pelajarannya adalah pergi karena alasan yang tepat, dengan urutan yang benar, dan memberi dirimu waktu sebelum memulai lagi.
Haruskah kamu menyatakan perasaanmu padanya?
Di tengah semua ini, ada dorongan untuk memberi tahu orang itu. Boleh saja, dan kejujuran emosional itu butuh keberanian. Tapi mengatakannya langsung saat kamu masih berpasangan punya risiko nyata: kamu memberinya peran dalam keputusan yang sebenarnya hanya milikmu, pertemanan bisa mendadak canggung dalam semalam, dan pengakuan seminggu sebelum putus biasanya dianggap semua orang sebagai penyebab putusnya. Mungkin kamu lebih baik mengirim IF: IF menyampaikan persis apa yang kamu rasakan, tidak meminta apa pun darinya, dan tidak bisa terbuka selama salah satu dari kalian masih berpasangan. Kalau suatu hari waktunya pas, kamu sudah ada di sana untuk menunjukkan sudah berapa lama kamu menyimpan perasaan ini.
Kalau kamu memutuskan untuk bertahan
Bertahan adalah pilihan yang nyata, bukan karena kurang nyali — selama itu memang kamu pilih, bukan sesuatu yang kamu jalani begitu saja.
- Kecilkan volume orang itu: lebih sedikit momen berdua, tidak ada pesan larut malam, tidak mengintip profilnya. Kamu tidak perlu mengumumkan jarak itu padanya.
- Bawa pulang ke hubunganmu apa yang ditunjukkan perasaan itu. Kalau crush itu memberimu rasa ingin tahu, tawa, atau perhatian, minta lebih banyak hal itu di rumah, secara terang-terangan.
- Pertimbangkan untuk memberi tahu pasanganmu. Perasaan bukan hal yang memalukan, dan memberi tahu pasangan tentang crush membahas kapan dan bagaimana caranya.
- Kalau kamu lebih suka perasaan itu diungkapkan daripada dikubur, kamu tetap bisa mengirim IF: bertahan dan mengirim IF tidak bertentangan, karena IF tidak bisa terbuka selama kamu masih bersama pasanganmu.
- Buat jadwal untuk mengecek diri: lakukan tes ini lagi tiga atau enam bulan lagi.
Kalau kamu memutuskan untuk pergi, pergilah dengan baik
Kalau hubungannya sudah selesai, hal paling baik hati yang bisa kamu lakukan adalah mengakhirinya dengan baik, dan segera.
- Akhiri karena alasan yang memang tentang kalian berdua: itulah alasan yang sebenarnya, dan alasan yang pantas didengar pasanganmu.
- Jujurlah, dan bukan hanya saat ditanya. Kalau pasanganmu bertanya apakah ada orang lain, katakan bahwa ada seseorang yang kamu sukai, dan kalau sudah ada yang terjadi, ceritakan sendiri. Ketahuan belakangan jauh lebih merusak.
- Akhiri satu hal sebelum yang lain dimulai: tidak ada tumpang tindih, tidak menyiapkan cadangan hubungan berikutnya. IF bukan tumpang tindih — tidak ada yang bisa terbuka sampai kamu sudah pergi dan dia juga single.
- Beri dirimu waktu untuk menjalani hidup sebagai single. Kamu perlu berduka atas apa yang kamu akhiri, meski mengakhirinya adalah hal yang benar, dan perasaan baru itu perlu membuktikan bahwa ia bisa bertahan tanpa drama.
Kalau kamu sudah menikah, atau ada anak, urutannya jadi lebih penting lagi: bicarakan dulu dengan seseorang, upayakan bersama kalau kalian berdua mau, dan cari nasihat praktis serta hukum sebelum memberi tahu anak atau keluarga. Sudah menikah tapi jatuh cinta pada orang lain ditulis untuk pergulatan seperti itu.
Kalau kamu sudah mengirim IF saat masih berpasangan dan penerimanya single, IF itu akan terbuka begitu kamu mengubah statusmu sendiri menjadi single — jadi masa single yang ingin kamu jalani mungkin justru dimulai dengan sebuah pengungkapan. Akhiri hubunganmu dulu, dan jangan pernah menandai dirimu single selagi kalian masih bersama demi mempercepat pengungkapan: itu namanya bohong. Dan kalau kamu ingin waktu sendiri dulu, waktu itu tetap milikmu: IF yang sudah terbuka hanya membuka chat kalau dia menerimanya, dan chat itu bisa menunggu sampai kalian berdua siap.
Kalau kamu tidak bisa mengurainya sendirian
Berputar-putar di tempat yang sama selama berbulan-bulan bukan tanda kelemahan. Bicara dengan orang yang kamu percaya — teman yang tidak memihak — bisa membantumu memisahkan dua keputusan itu, begitu juga mengupayakannya bersama, kalau pasanganmu mau. Menulis juga membantu, dan kalau kata-kata itu sebenarnya untuk dia, IF memungkinkanmu mengatakannya sekali lalu melepaskannya.
Peran IF di sini
IF adalah aplikasi kencan untuk semua orang, single maupun berpasangan, yang dibangun di atas satu gagasan: kamu seharusnya bisa mengungkapkan perasaanmu, apa pun waktunya. Dua orang single bisa saling memberi Like, dan Like yang diterima membuka chat. Selama salah satu dari kalian berpasangan, chat tidak bisa terbuka, tapi kamu tetap bisa mengirim IF: pesan pribadi yang tersegel, maksimal 250 karakter, yang baru terbuka saat kalian berdua single. Begitu terbuka, dia akan melihat siapa kamu dan apa yang kamu tulis, lalu memilih untuk menerimanya atau tidak; kalau diterima, chat terbuka dengan IF-mu sebagai pesan pertamanya.
Untuk pertanyaan seperti ini, itulah katup pelepasnya. Di antara pengakuan yang berisiko dan perasaan yang dikubur lalu tumbuh dalam gelap, IF membiarkanmu mengatakannya sekali, bersungguh-sungguh di setiap katanya, dan menyerahkan urusan menunggu pada IF selagi kamu memutuskan soal hubunganmu. Punya IF saat berpasangan bukan selingkuh, dan mengirimnya bukan keputusan untuk pergi. Itu kebenaran, tersegel sampai waktunya tepat.
Kalau dia ada di IF, dia mungkin diberi tahu bahwa ada IF yang menunggunya — tapi tidak pernah siapa pengirimnya atau apa isinya. Kalau tidak, IF yang dikirim ke alamat email yang dia berikan padamu memicu satu email undangan singkat, tanpa nama atau kata-katamu; IF yang dikirim ke nomor telepon atau akun Instagram hanya menunggu, siapa tahu dia bergabung. Bagaimanapun juga, IF itu tetap menunggu sampai kalian berdua single, kecuali dia menghapusnya. Cara kerja IF menjelaskan detailnya. IF tidak pernah mengungkap pengirim sebelum terbuka, tapi orang kadang bisa menebak dari konteks. Dengan mengetahui itu, pilihan ada di tanganmu.
IF pertamamu gratis. Apa pun keputusanmu, IF memberimu ruang untuk berani secara emosional tanpa melewati batas atau meminta apa pun dari siapa pun, dan kalau suatu hari waktunya pas, IF mungkin membawamu ke tempat kamu seharusnya berada sejak awal.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apakah salah putus karena suka orang lain?
Tidak, kalau hubungan itu memang tidak tepat dan perasaan baru itu hanya membuatmu menyadarinya. Ini jadi salah kalau orang itu satu-satunya alasan, karena dengan begitu kamu mengakhiri sesuatu yang nyata demi sesuatu yang belum sempat kamu kenal. Tanyakan pada dirimu apakah kamu akan tetap pergi kalau dia tidak ada. Dan perasaan itu tidak butuh perpisahan untuk diungkapkan: IF menyimpannya, tersegel, sampai kalian berdua single.
Bagaimana memilih antara dua orang?
Biasanya dengan menyadari bahwa kamu sebenarnya tidak sedang memilih di antara mereka: kamu sedang memutuskan apakah akan bertahan dalam satu hubungan, dan kamu bisa menjawabnya tanpa melibatkan orang lain itu. Kalau kamu sedang dekat dengan dua orang dan belum eksklusif dengan siapa pun, jujurlah pada keduanya, dan pilih orang yang tetap akan kamu pilih di malam biasa di tengah minggu.
Berapa lama sindrom rumput tetangga lebih hijau berlangsung?
Tidak ada jangka waktu pasti, karena ini pola, bukan kondisi medis. Tarikan pada satu orang sering memudar begitu tidak lagi dipupuk; polanya sendiri cenderung kembali di setiap hubungan baru sampai kamu memahami apa yang mendorongnya.
Haruskah aku memberi tahu pasangan bahwa aku punya perasaan pada orang lain?
Itu keputusanmu, dan perasaan itu bukan hal yang memalukan. Kalau perasaan itu mengubah sikapmu, atau melibatkan orang yang dikenal pasanganmu, memberi tahu biasanya jalan yang jujur — bicarakan apa yang perasaan itu tunjukkan tentang kalian berdua, bukan tentang orang lain itu. Kalau kamu akan pergi dan pasanganmu bertanya apakah ada orang lain, katakan yang sebenarnya, dan kalau sudah ada yang terjadi, ceritakan sendiri.
Apakah orang menyesal pergi demi orang lain?
Sebagian iya, dan biasanya soal bagaimana mereka pergi — demi orang baru, atau dengan tumpang tindih — bukan soal mengakhiri hubungan yang lama. Mengakhiri dulu demi hubungan itu sendiri, dan membiarkan IF menunggu waktu yang pas, adalah urutan yang paling sedikit meninggalkan penyesalan.
Putuskan soal hubunganmu dengan menimbang hubungan itu sendiri, dan beri perasaan yang lain tempat yang jujur untuk menunggu: ungkapkan sekali lewat IF, supaya kalau suatu hari waktunya pas, kamu sudah ada di sana.