Haruskah Kamu Balikan dengan Mantan?
Entri No. 044 ·

Oleh Tim IF
Balikanlah dengan mantan kalau kamu bisa menyebutkan apa yang membuat hubungan kalian berakhir dan menunjuk sesuatu yang benar-benar berubah sejak itu — dalam dirimu, dalam dirinya, atau dalam keadaan kalian — dan kalian berdua ingin mencoba lagi karena alasan selain kesepian. Kesempatan kedua bisa berhasil kalau putusnya karena hal yang bisa berlalu: waktu yang tidak tepat, jarak, salah satu dari kalian belum siap, atau masa sulit dalam hidup. Jauh lebih sulit berhasil kalau penyebabnya hal yang tidak bergeser: sikap merendahkan, ketidakjujuran yang berulang, perbedaan soal anak atau tempat tinggal.
Kalau kamu terus memikirkan ini, kamu tidak bodoh dan kamu tidak sendirian. Merindukan seseorang setelah putus itu sangat manusiawi, dan masih mencintai mantan bukan hal yang memalukan atau perlu disembunyikan. Tapi merindukan seseorang dan benar-benar cocok satu sama lain itu dua hal yang berbeda, dan perihnya rindu bisa menenggelamkan pertanyaan yang kedua. Jadi pertanyaan yang berguna bukan “apakah aku masih mencintainya?”, tapi “apakah kali ini akan berbeda, dan kenapa?”
Ini cara untuk memutuskan, bukan panduan untuk merebut kembali hati seseorang: kesempatan kedua hanya layak kalau kalian berdua memilihnya dengan bebas. Dan pilihanmu lebih luas dari “kirim pesan malam ini” atau “jangan pernah bicara lagi”. Kamu bisa membiarkannya, membicarakannya, mengirim Like kalau kalian berdua single dan pakai IF, atau, kalau salah satu sudah punya pasangan atau dia belum pakai IF, bilang sekali lewat IF — pesan tersegel yang menunggu sampai kalian berdua single. IF adalah aplikasi kencan yang kami buat untuk perasaan seperti ini, dan tidak ada percakapan yang bisa dimulai di sana selama salah satu dari kalian masih berpasangan.
Mulai dari alasan putus, bukan dari perasaan
Memori itu editor yang murah hati. Setelah putus, ia menyimpan Minggu pagi yang santai dan candaan khas kalian berdua, tapi diam-diam menghapus pertengkaran soal giliran siapa yang harus menelepon. Sebelum apa pun, tulis alasan sebenarnya kenapa putus dalam satu kalimat sederhana. Bukan “rumit”, tapi “kami bertengkar soal uang tiap bulan” atau “aku ambil kerjaan di Leeds, dan kami berdua nggak mau menjalani hubungan jarak jauh”. Lalu tanyakan pada dirimu, akhir seperti apa itu.
Akhir yang masih bisa diubah oleh waktu
Beberapa hubungan berakhir karena waktunya, bukan karena orangnya. Salah satu dari kalian dapat kerjaan di luar negeri. Salah satu sedang berduka, kelelahan, atau baru 23 tahun dan belum siap. Kalau keadaan seperti ini adalah keseluruhan ceritanya, dan sekarang sudah berubah, kesempatan kedua layak dipertimbangkan. Kalau belum berubah, berharap bukan hal bodoh: beberapa perasaan memang datang terlalu dini. Dan kalau salah satu dari kalian sudah bertemu orang lain, itulah gunanya IF: bilang sekarang, biarkan ia menunggu hari ketika kalian berdua single, dan sementara itu tetap jalani hidupmu. Panduan kami tentang orang yang tepat, waktu yang salah membahas cara membedakan soal waktu yang sungguhan dari alasan halus yang diucapkan demi menjaga perasaan.
Akhir yang jarang diubah oleh waktu
Yang lain berakhir karena sesuatu yang ada di dalam hubungan itu sendiri. Perbedaan soal mau punya anak atau tidak, atau di mana membangun hidup, tidak akan melunak hanya karena kalian sempat berpisah. Begitu juga kepercayaan yang berulang kali dikhianati, atau satu orang yang menanggung semua usaha menjaga hubungan tetap jalan. Waspadai terutama sikap merendahkan: memutar bola mata, ejekan, dan rasa lebih tinggi yang diam-diam memperlakukan pasangan seperti orang di bawahmu. Gottman Institute menyebut sikap merendahkan sebagai prediktor nomor satu perceraian dalam riset puluhan tahun mereka, dan sikap ini jarang hilang selama masa rehat.
Kalau kalimatmu masuk kelompok kedua ini, balikan berarti salah satu dari kalian harus mengubah sesuatu yang mendasar. Itu bisa terjadi. Hanya saja, butuh bukti lebih dari sekadar pesan hangat dan satu malam yang menyenangkan.
Apakah kesempatan kedua berhasil?
Kadang-kadang — jauh lebih sering kalau alasan putus sudah benar-benar diselesaikan daripada sekadar memudar dari ingatan. Analisis 2020 terhadap 43 studi jangka panjang tentang pasangan menemukan bahwa prediktor terkuat kualitas hubungan adalah ciri hubungan itu sendiri: seberapa yakin masing-masing bahwa pasangannya berkomitmen, rasa dihargai, kepuasan seksual, seberapa puas menurut mereka pasangannya, dan konflik. Ini jadi daftar cek yang berguna untuk hubungan lama. Apakah kalian yakin satu sama lain? Apakah kamu merasa dihargai? Bagaimana kalian bertengkar, dan bagaimana kalian berbaikan?
Kesiapan juga penting. Riset dari Purdue University menemukan orang yang merasa lebih siap berkomitmen lebih berkomitmen pada hubungan mereka, dan sekitar 25% lebih kecil kemungkinannya putus. Kalau salah satu pergi karena belum siap, pertanyaannya apakah itu benar-benar berubah, atau kamu cuma berharap begitu.
Hubungan yang sudah putus dan mulai lagi lebih dari sekali butuh perhatian ekstra. Setiap putaran biasanya mengikuti pola yang sama kecuali ada sesuatu yang baru yang memecahnya.
Tanda-tanda balikan bisa berhasil
- Kalian berdua bisa menyebutkan apa yang salah, tanpa memutarbalikkan cerita seolah semuanya salah pihak lain.
- Ada sesuatu yang nyata berubah — pindah tempat, kerjaan baru, keputusan soal anak, kebiasaan yang benar-benar ditinggalkan — bukan cuma janji untuk berusaha lebih keras.
- Kalian sudah punya waktu berpisah yang nyata, dan membangun hidup yang kamu suka tanpa dia.
- Kamu ingin orang ini, secara spesifik, bukan cuma ingin berhenti merasa sendiri.
- Dia juga ingin, dan sudah bilang dengan kata-kata, bukan cuma petunjuk yang harus kamu tafsirkan.
- Orang-orang yang paling mengenalmu ikut senang meski dengan hati-hati, bukan diam-diam cemas.
Tanda-tanda itu cuma kesepian yang bicara
- Rasa rindu paling kuat larut malam, di hari jadi, atau saat kamu melihatnya tampak bahagia di media sosial.
- Kamu nggak bisa bilang apa yang akan berbeda, cuma tahu kamu merindukannya.
- Kamu membandingkan setiap orang baru dengan dia.
- Kamu akan kembali ke sesuatu yang kamu tinggalkan karena alasan yang masih kamu setujui.
- Kamu berharap dia sudah berubah, alih-alih melihat bahwa dia memang sudah berubah.
Kalau sebagian besar ini cocok, perasaan itu nyata, tapi mungkin lebih ke duka daripada rencana, dan melupakan seseorang yang tak bisa kamu miliki melanjutkan dari situ. Kalau berbulan-bulan berlalu dan perasaan itu masih mewarnai hari-harimu, bicara dengan seseorang bisa membantu. Dan melepaskan tidak harus berarti membiarkannya tak terucap: kalau salah satu sudah punya pasangan, atau dia belum pakai IF, kamu bisa menuangkannya dalam IF, meletakkan perasaan itu, lalu melanjutkan hidup, dengan tahu IF itu ada di sana kalau suatu saat waktunya berubah.
Kalau mantanmu yang bertanya
Kadang pertanyaan itu datang sebagai pesan, bukan sebagai pikiran: “bisa ngobrol?” larut malam, mantan yang tiba-tiba ingin mencoba lagi, atau IF yang dia kirim dulu sekali dan akhirnya terbuka. Kamu nggak harus menjawab sesuai jadwalnya. Tanyakan padanya apa yang akan kamu tanyakan pada dirimu sendiri: menurut dia, apa yang membuat kalian putus, dan apa yang sudah berubah sejak itu? Jawaban yang bagus itu spesifik dan mengakui sebagian kesalahannya. Jawaban yang samar — “aku cuma kangen kamu”, “kali ini bakal beda” — hanya memberitahumu bahwa dia kangen, bukan bahwa ada yang berubah.
Perhatikan juga kapan dia kembali. Mantan yang muncul lagi di minggu yang sama saat hubungan berikutnya berakhir, atau di Minggu malam yang sepi, mungkin mencari pelipur lara sama besarnya dengan mencarimu. IF yang dikirim lama sebelumnya berbeda: ia ditulis sebelum Minggu malam sepi mana pun, jadi menunjukkan perasaan itu sudah ada sejak awal. Dan kalau jawabanmu tidak, kamu bisa mengatakannya dengan baik dan jelas tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Kalau datangnya sebagai IF, kamu cukup menolaknya, dan dia tidak diberi tahu.
Balikan setelah putus, dengan hati-hati
Kalau kamu sudah berpikir matang dan kalian berdua mau coba, anggap ini hubungan baru dengan sejarah lama, bukan tombol reset.
- Bicara dulu sebelum kencan lagi. Lakukan satu percakapan jujur tentang apa yang salah, apa yang akan kalian lakukan dengan cara berbeda, dan apa yang kalian berdua inginkan sekarang.
- Sepakati apa yang akan berubah, secara spesifik. “Kita akan komunikasi lebih baik” itu harapan. “Kita tidak akan membiarkan pertengkaran soal uang berlarut seminggu, dan kita akan cek keuangan bersama setiap Minggu pertama tiap bulan” itu rencana.
- Jalani perlahan. Kencan lagi, jangan langsung tinggal bareng atau melanjutkan persis dari tempat terakhir.
- Saling tanyakan kabar hubungan kalian sejak awal dan sesering mungkin, selagi semuanya baik, daripada menyimpan setiap obrolan sulit sampai krisis.
- Putuskan sekarang apa yang akan kalian lakukan kalau pola lama muncul lagi, supaya kalian tidak perlu memutuskannya di tengah situasi itu.
Haruskah kamu kirim pesan ke mantan?
Hanya kalau kamu tahu kenapa mengirimnya, dan siap menerima jawaban apa pun, termasuk diam. Waktu terburuk untuk mengirim pesan ke mantan justru saat kamu paling ingin: setelah minum, jam 2 pagi, di hari ulang tahunnya, atau dalam perjalanan pulang dari pesta pernikahan di mana semua orang lain tampak berpasangan. Kalau dia sudah memintamu untuk tidak menghubunginya, atau memblokirmu, itulah jawabannya, di IF maupun di mana pun, dan sikap yang menghormatinya adalah berhenti di situ.
Kamu mungkin pernah membaca soal “aturan tanpa kontak” sebagai cara supaya mantan kangen. Kalau dipakai sebagai taktik, itu permainan; kalau dipakai dengan jujur, jeda tanpa kabar itu sekadar menjernihkan pikiran supaya kamu bisa memutuskan. Berhenti memantau juga membantu: studi 2012 terhadap 464 orang menemukan bahwa memantau halaman Facebook mantan berkaitan dengan lebih banyak kesedihan dan kerinduan, serta lebih sedikit pertumbuhan pribadi, setelah putus. Membisukan (mute) akunnya memberimu ruang untuk memutuskan dengan baik.
Kalau kamu menghubunginya, buat singkat, spesifik, dan tanpa tekanan. Contohnya: “Aku banyak mikirin kita, dan apa yang salah dulu. Kalau kapan-kapan kamu mau ngopi dan ngobrol jujur, aku senang banget. Nggak ada paksaan sama sekali.” Pesan itu menyebut perasaan, tidak meminta hal besar, dan memberinya cara mudah untuk bilang tidak. Hindari apa pun yang memintanya mengurus perasaanmu, seperti “kamu pernah mikirin kita nggak?” yang dikirim tengah malam. Kirim sekali saja. Kalau dia nggak membalas, itulah jawabanmu.
Ada juga cara lain untuk mengatakannya: bukan setelah pesan yang tak dibalas, tapi sebagai penggantinya. Bilang langsung itu berani, dan kadang memang paling tepat, tapi ia datang di tengah harinya, meminta jawaban yang mungkin belum siap dia berikan, dan tidak bisa ditarik kembali. Kalau salah satu sudah punya pasangan, atau dia belum pakai IF, kamu mungkin lebih baik mengirim IF: pesan itu tetap tersegel sampai dia ada di IF dan kalian berdua single, dan kalau suatu saat waktunya pas, kamu sudah ada di sana untuk menunjukkan bahwa kamu tidak pernah berhenti peduli.
Kalau salah satu sudah move on, atau sudah bertahun-tahun
Kalau mantanmu sekarang punya pasangan, masih mencintainya bukan hal yang salah, dan bukan tanpa harapan. Yang tidak adil adalah menerobos hubungannya: menguji apakah dia mau selingkuh, atau memintanya memilih. Orang yang tepat, waktunya belum pas? Tunggu dia di IF. Kamu bisa mengungkapkan perasaanmu tanpa meminta apa pun darinya sekarang: dia mungkin diberi tahu ada IF yang menunggunya, tapi tidak pernah diberi tahu siapa pengirimnya atau apa isinya, dan IF itu tetap tersegel selama dia masih bersama seseorang. Kalau suatu hari dia jadi single saat kamu juga single, kamu bisa membuka IF itu dan menunjukkan bahwa perasaanmu tidak pernah hilang. Mantan sudah move on, tapi aku masih sayang membahasnya lebih dalam.
Kalau kamu yang punya pasangan baru, perasaan pada mantan itu umum dan tidak perlu membuatmu malu. Batasnya cuma selingkuh dan bohong, jadi jangan pernah menjajaki perasaan mantan di belakang pasanganmu. Dengan IF, kamu bisa mengatakannya dengan jujur: IF menunggu sampai kalian berdua single, dan tidak ada percakapan yang bisa dimulai sebelum itu. Masih ada rasa ke mantan padahal sudah punya pasangan baru? ditulis khusus untuk situasi itu.
Kalau sudah bertahun-tahun, cara menghubungi lagi dia yang terlewatkan membahas cara menghubunginya dengan lembut, sekali saja, lewat kontak yang memang pernah dia berikan. Dan kalau waktunya masih belum tepat, IF yang dikirim lewat fitur pencarian ke alamat email, nomor telepon, atau akun Instagram yang dia berikan bisa menyimpan kata-katamu dan menunggu.
Di sinilah IF berperan
IF adalah aplikasi kencan untuk semua orang, baik kamu single maupun berpasangan, dan tidak pernah ada percakapan yang dimulai di sana selama salah satu dari kalian masih berpasangan. IF dibangun dari satu gagasan: kamu seharusnya bisa mengungkapkan perasaanmu, kapan pun waktunya. Dengan mantan, ini mengangkat beban: nggak perlu menyiapkan obrolan besar, cukup satu pesan jujur yang bisa menemukan momennya sendiri.
Kalau kalian berdua single dan sama-sama pakai IF, kirim Like. Kalau dia membalas Like-mu, kalian match dan chat pun terbuka, tanpa beban pesan jam 2 pagi.
Kalau waktunya belum tepat — mantanmu punya pasangan baru, kamu punya pasangan, atau dia sama sekali belum pakai IF — kirim IF: pesan pribadi dan tersegel hingga 250 karakter yang menunggu sampai kalian berdua single, kecuali dia menghapusnya. Kamu bisa mengirim IF lewat fitur pencarian ke orang yang belum pakai IF, ke alamat email, nomor telepon, atau akun Instagram yang dia berikan padamu, asalkan akunmu sendiri punya nomor telepon terverifikasi. Kalau kamu single saat dia jadi single, kamu punya 24 jam untuk membuka IF-mu; kalau kamu berpasangan dan dia single, IF terbuka saat kamu mengubah statusmu sendiri menjadi single. Saat itu dia melihat siapa kamu dan apa yang kamu tulis, dan kalau dia menerimanya, chat pun terbuka. Cara kerja IF membahas semua situasinya.
Ketahui bagaimana IF itu sampai. Kalau mantanmu pakai IF, biasanya dia diberi tahu ada IF yang menunggu, tapi tidak pernah diberi tahu siapa pengirimnya atau apa isinya. Kalau tidak, IF yang dikirim ke alamat emailnya memicu satu email undangan singkat tanpa namamu atau kata-katamu, sementara IF yang dikirim ke nomor telepon atau akun Instagram tidak mengirim apa pun dan cuma menunggu, siapa tahu dia bergabung. Meski begitu, mantan tahu sejarah kalian dan mungkin bisa menebak dari konteks. Kalau dia menolak, kamu tidak diberi tahu. Setelah tahu semua ini, pilihan ada di tanganmu.
IF pertamamu gratis. Menulisnya butuh sedikit keberanian, dan justru di situlah intinya: kamu bilang sekali, bersungguh-sungguh dengan setiap katanya, lalu menjalani hidupmu selama IF itu menunggu. Mungkin dengan mengatakannya, perasaan itu akhirnya bisa tenang. Atau mungkin, suatu hari, waktunya pas dan IF itu membawamu kembali ke tempat di mana kamu memang seharusnya berada sejak awal.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apakah pasangan yang balikan bisa bertahan?
Ada yang bisa, ada yang putus lagi karena alasan yang sama. Beberapa bulan pertama paling menentukan: kalau pertengkaran lama muncul lagi dalam beberapa minggu, masalahnya cuma dilewati karena senang ketemu lagi, bukan diselesaikan. Kesempatan kedua yang dibangun dari masalah yang jelas dan perubahan nyata punya peluang bagus; yang cuma karena kangen biasanya mengulang akhir yang sama.
Berapa lama harus menunggu sebelum balikan dengan mantan?
Tidak ada aturan pasti, tapi memutuskan di minggu-minggu pertama yang masih perih jarang berakhir baik. Tunggu sampai kamu bisa membayangkan hidup yang baik tanpa dia, lalu tanyakan apakah kamu masih menginginkannya. Menginginkan seseorang saat hatimu sudah tenang sangat berbeda dengan membutuhkannya supaya rasa sakitmu berhenti. Kalau yang kamu tunggu adalah perubahan keadaannya, IF memungkinkanmu bilang sekarang dan tetap menjalani hidupmu sendiri selama IF itu menunggu.
Haruskah balikan dengan mantan yang selingkuh?
Selingkuh itu salah, tapi beberapa pasangan bisa membangun lagi hubungan setelahnya, asalkan yang selingkuh bertanggung jawab penuh, menjawab pertanyaan dengan jujur, dan menerima bahwa kepercayaan kembali perlahan. Kalau dia meremehkan apa yang terjadi, atau kamu mau balikan terutama karena takut sendirian, itulah jawabanmu. Bicara dengan orang yang kamu percaya bisa membantumu memahami mana yang sedang terjadi.
Bagaimana tahu kalau mantan mau balikan?
Tidak bisa dipastikan dari story-nya, playlist-nya, atau siapa yang mulai dia ikuti. Beberapa tanda lebih berarti daripada yang lain: mantan yang mengungkit apa yang salah, mengajak ketemu, atau membicarakan masa depan alih-alih masa lalu sedang memberitahumu sesuatu. Nostalgia larut malam dan reaksi ke story-mu tengah malam jauh kurang berarti.
Satu-satunya tanda yang jelas adalah dia mengatakannya langsung, jadi kalau kamu perlu tahu, tanyakan saja terus terang. Kalau bertanya langsung terasa terlalu membuka diri, bilang duluan: Like kalau kalian berdua single dan pakai IF, atau IF tersegel yang menunggu sampai kalian berdua single, supaya kamu tidak pernah menyudutkannya. Dan cara dia memberitahumu bisa jadi lewat IF-nya sendiri: setelah terbuka, kamu bisa menerima atau menolaknya, dan dia tidak diberi tahu kalau kamu menolak.
Masih merasakannya? Kirim Like kalau kalian berdua single dan pakai IF, atau bilang sekali lewat IF dan biarkan ia menunggu hari ketika waktu kalian akhirnya pas.